Wartawan Indonesia yang meliput kegiatan Wapres Boediono menghadiri KTT Gerakan Nonblok XVI mendarat di Teheran pada Rabu (29/8/2012). Ketika pertama kali keluar bandara akan terasa negara ini sangat maju. Jalan-jalanan di kota Teheran sangat mulus dan tidak ada yang berlubang.
Taman-taman juga dibangun di santero kota dan sangat terawat. Di negara ini juga terdapat busway mirip dengan Jakarta. Namun bedanya tidak ada motor atau mobil yang menyerobot jalur bus berlajur khusus itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Kamis (30/8/2012), Duta Besar RI untuk Iran, Dian Wirengjurit, mengajak wartawan untuk makan malam. Restoran yang dipilih adalah sebuah restoran yang ada di perbukitan yang terletak di utara Teheran. Restoran itu menyajikan hidangan khas setempat seperti kebab, iga kambing, dsb.
Dibutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menuju lokasi restoran dari pusat kota Teheran. Malam Jumat mirip sepeti malam Minggu di Indonesia. Hal ini disebabkan pada hari Jumat warga Teheran libur. Sehingga malam ini adalah malam di mana warga Teheran hang out bersama dengan teman atau keluarganya.
Mendekati lokasi restoran jalan menjadi menanjak. Jalanan itu dipenuhi mobil-mobil yang diparkir di pinggir jalan. Hal ini membuat lalu lintas di sekitar restoran menjadi macet. Semua kendaraan diparkir di sebuah lokasi parkir yang terpusat. Kemudian pengunjung lokasi itu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Ternyata tak hanya satu restoran yang ada di lokasi ini. Ada beberapa restoran berukuran besar yang berbentuk bertingkat. Sepanjang jalan di sekitar lokasi itu juga dipenuhi pedagang makanan khas Iran. Pengamanan sedikit longgar, sehingga warga Teheran bisa mengambil foto-foto. Warga Teheran menyemut di lokasi ini.
Warga yang datang di lokasi ini sangat santai. Anak muda pria di lokasi ini memilih mengenakan jeans dan kaos atau kemeja ngepas dengan badan. Sedangkan wanita mudanya mengenakan kerudung yang sebagian rambutnya kelihatan dan juga mengenakan jeans.
Makan malam di Iran sangat larut jika dibandingkan di Indonesia. Warga di lokasi itu baru makan malam sekitar pukul 22.30 waktu setempat. Malam memang datang sangat 'terlambat' jika dibanding di Indonesia. Gelap mulai terasa sekitar pukul 20.00 malam. Saat ini Iran memang memasuki musim panas, sehingga waktu siang jauh lebih lama dibandingkan malam.
Lokasi restoran itu mulai sepi sekitar pukul 24.00 waktu setempat. Pada waktu tersebut toko-toko mulai menutup tokonya dan warga Teheran mulai meninggalkan lokasi itu.
Meski negara ini mempunyai pengamanan sangat ketat, warga di Iran terlihat hidup normal seperti warga lainnya di belahan dunia lainnya. Mereka tetap bisa beraktivitas dan menikmati hidup. Padahal banyak pembatasan yang dilakukan pemerintah di negara itu seperti pembatasan akses internet dan untuk mengambil foto sekalipun sangat sulit dilakukan di tengah kota Teheran.
(nal/nrl)











































