Sekitar 20 orang yang terdiri dari berbagai macam kalangan yakni perancang tekstil, pelukis dan ibu rumah tangga memenuhi salah satu ruangan di Museum der Kulturen Basel yang juga sedang memamerkan barang-barang hasil ekspedisi warga kota tersebut pada permulaan abad-19. Memang peserta dibatasi untuk tidak melebihi 20 peserta.
Demikian disampaikan Mohammad Budiman Wiriakusumah, Sekretaris Dubes Indonesia untuk Swiss, kepada detikcom, Senin (3/9/2012)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Museum der Kulturen Basel banyak menyimpan ribuan koleksi tekstil Indonesia dari abad ke-18. Hal ini juga yang menjadi incaran Indra Riawan, Direktur Museum Tekstil Jakarta, yang hadir juga di Basel, untuk mengajak Museum Basel memamerkan koleksinya di Jakarta.
Menurut Indra Riawan, Museum Tekstil Jakarta juga siap untuk memberikan pelatihan kepada staf KBRI Bern dan organisasi kemasyarakatan lainnya yang merada di Swiss, agar pada saatnya nanti warga Indonesia yang bermukim di Swiss siap melakukan kegiatan promosi yang berhubungan dengan batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia.
KBRI Bern sendiri telah ditetapkan sebagai KBRI Batik pada awal 2010 oleh Duta Besar RI untuk Konfederasi Swiss dan Keharyapatihan Liechtenstein, Djoko Susilo, yang mengutamakan batik sebagai pakaian yang digunakan staff KBRI Bern untuk selama musim panas.
Pelatihan membatik yang dipimpin langsung oleh Benny Gratha dari Museum Tekstil Jakarta dimulai dengan penjelasan tentang sejarah batik serta perkembangan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Peserta kagum atas ribuan motif batik belum lagi dengan ketangkasan tangan pengerajin batik Indonesia. Namun yang paling menarik buat peserta pelatihan adalah diberikannya kesempatan untuk langsung mempraktekan cara menggoreskan malam diatas kain yang telah digambar motif batik.
Mereka bebas memilih motif yang diinginkan, mulai motif yang tradisional sampai yang paling modern. Setelah selesai mereka membiasakan ketangkasan tangannnya dalam menggunakan canting, peserta juga diberikan bekal tentang proses pemberian warna dan mencobanya secara langsung.
Diakhir pelatihan Indra Riawan memberikan cindera mata kepada seluruh peserta namun hadiah yang besar diberikan kepada dua orang peserta terbaik yang dapat menggunakan ketangkasan tangan dan kreativitasnya untuk membuat batik.
Tampak peserta masih enggan meninggalkan tempat pelatihan meskipun waktu selama tiga setengah jam yang diberiksn untuk pelatihan ini telah usai. Mereka sangat mengharapkan untuk seringnya diadakan pelatihan serupa, bahkan beberapa diantara dari mereka berjanji untuk segera berkunjung ke Museum Tekstil Jakarta untuk mempelajari lebih dalam lagi tidak hanya batik namun teknik-teknik pembuatan tekstil Indonesia lainnya.
(van/riz)











































