Para pasien ini rata-rata mengalami gejala keracunan yakni perut mual, kepala pusing hingga pandangan berkunang-kunang. Namun dari jumlah 41 orang yang sempat mendapatkan perawatan medis, hingga Minggu (2/9) petang WITA hanya tinggal 9 pasien saja yang mendapatkan perawatan intensif, selebihnya bisa diperbolehkan pulang untuk rawat jalan.
"Sembilan pasien ini sudah kita lakukan upaya pencegahan racun dengan melakukan cuci darah," kata Kepala Forensik RS Sanglah, dr. Dudut Rustiadi, kepada detikcom, ditemui di RSUP Sanglah Denpasar.
Upaya ini, kata dia, dilakukan karena arak yang diminum diduga kuat sudah tercampur dengan methanol yang berbahaya untuk tubuh manusia.
"Kalau dilihat gejala secara klinis dugaan kita adalah methanol, tapi untuk kepastiannya tetunya harus dilakukan uji lab dan outopsi terhadap korban yang meninggal," imbuh dia.
Sebelumnya, pada Kamis (30/9) kemarin,puluhan warga Desa Katung, Kintamani Bangli, Bali, dilarikan ke RSUP Sanglah, Denpasar, usai menenggak arak.
Warga ini minum jenis arak dalam jumlah yang cukup banyak. Akibatnya tiga orang tewas dan puluhan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
(gds/van)











































