"Masih berasal NII kemudian berpecah menjadi JI dan kelompok Abu Omar. Di Solo ada kelompok Abu Omar, masih merupakan kelompok lama," kata Al Chaidar saat dihubungi Sabtu (1/9/2012) malam.
Menurut Al Chaidar, kelompok ini melakukan penyerangan terhadap pos polisi di Solo menjelang Lebaran, untuk mengikuti 'tradisi' sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelompok teroris pun kini menargetkan polisi sebagai sasaran serangan. Alasannya, mereka berniat balas dendam. "Karena polisi jadi garda penjaga dan mereka dianggap mengejar teroris," ujarnya.
Al Chaidar menambahkan, jaringan teroris masih tumbuh di Indonesia. Kelompok teror ini melakukan pelatihan termasuk indoktrinisasi terhadap remaja di daerah perbatasan yang jauh dari fokus perhatian aparat.
"Jaringan teroris masih ada. Solo itu memang daerah mereka, serangan seperti itu biasanya dilakukan orang lokal karena mereka tidak punya dana untuk berpergian jauh, tapi mereka umumnya sudah terlatih," paparnya.
Dalam penyergapan hari Jumat (31/8), Densus berhasil mengamakan satu terduga teroris dalam kondisi hidup di Desa Bulurejo, Kecamatan Gondangrejo, Karanganyar.
Sementara dua terduga teroris berinisial F (19 tahun) dan M (19 tahun) tewas dalam baku tembak dengan personel Densus 88. Jasad keduanya kini berada di RS Sukanto Polri, Jakarta Timur.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai menyebut Farhan merupakan anggota kelompok Hisbah di Solo yang menjadi sayap dari Jamaah Ansharut Tauhid.
Farhan juga pernah tergabung dalam kelompok Majelis Mujahiddin Indonesia (MMI) pimpinan Abu Omar. Seperti diketahui, Abu Omar alias Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta. Perannya adalah menyelundupkan senjata dari Filipina selatan ke Indonesia.
(fdn/sip)











































