Dalam pelatihan yang digelar Kantor SAR Medan selama dua hari tersebut, para jurnalis dikenalkan dengan perlatan rappeling, antara lain tali karmantel, carabiner, figure of eight, seatharness dan kegunaannya. Kemudian mereka melakukan simulasi rappeling dari atas tower beberapa latihan lain sebelum turun dari helikopter.
Kepala Seksi Operasional (Kasi Ops) SAR Medan, Joni Supriadi, Sabtu (1/9/2012) mengatakan, keahlian rappeling dari helikopter sangat diperlukan jurnalis, terutama saat menjalankan tugas di lokasi bencana yang membutuhkan alat transportasi udara dan turun menggunakan tali menuju titik bencana.
Tim SAR aku Joni kerap khawatir bila ingin melibatkan jurnalis ke titik bencana. Alasannya para awak media relatif kebanyakan tidak memahami pola tanggap bencana.
"Pembekalan keahlian rappeling dari helikopter khusus untuk kalangan jurnalis ini adalah yang pertama digelar oleh SAR. Jurnalis yang lulus mendapat sertifikat khusus yang berguna saat melakukan peliputan menggunakan pesawat atau helikopter ke titik bencana," papar Joni.
Sebelum terjun dari helikopter, para peserta pelatihan telah dibekali keilmuan tentang karakteristik helikopter, terutama strategi penanganan di lokasi bencana. Dalam fase ini, dari 24 jurnalis yang awalnya ikut, dan 14 di antaranya dinyatakan lulus tahap pertama.
Mereka kemudian mempraktikkan rappeling dari dari tower yang ada di Lapangan Brimob Daerah Sumut, Jl. KH. Wahid Hasyim, Medan, Sabtu siang. Hasilnya, dari 14 jurnalis, 11 di antaranya dinyatakan lulus.
Rencananya Kantor SAR Medan akan menggelar program keahlian menyelam dan susur goa yang juga termasuk dalam program Jurnalis Tanggap Bencana (JTB).
Salah seorang reporter MNC Biro Medan yang terlibat dalam kegiatan ini, Ahmad Zulfikar Sagala mengatakan, wartawan televisi maupun fotografer kerap terbentur kondisi untuk mendapatkan visual dan foto di titik bencana, terutama bencana pesawat jatuh di kawasan hutan.
"Pertimbangan keamanan sering menjadi penyebab wartawan tak diikutkan dalam proses evakuasi menggunakan jalur udara, karena kita tidak memiliki kemampuan khusus," kata Sagala.
Dengan pembekalan keahlian khusus kepada jurnalis, kata Sagala, tim SAR bisa bersinergi dalam menjalankan tugas masing-masing. Tim SAR menjalankan tugas evakuasi dan penanganan bencana, sedang jurnalis menyampaikan informasi kepada khalayak umum.
(rul/fdn)











































