Sebagian Komponen Satelit Lapan A2 Masih Impor

- detikNews
Jumat, 31 Agu 2012 14:16 WIB
Bogor - Satelit pemantau Lapan A2 yang dikembangkan Pusat Teknologi Satelit merupakan karya anak bangsa. Meski begitu, komponen satelit mikro tersebut sebagian besar masih impor dari luar negeri.

"Ini masih dalam tahap penguasaaan teknologi. Satelit ini komponennya sebagian besar impor tapi ada komponen buatan dalam negeri. Intinya kita sedang menguasai hak sistem komponen satelit yang kita uji coba. Kalau nanti berhasil nanti bisa kita buat sendiri komponennya di dalam negeri," kata Kepala Pusat Tenkologi Satelit, Suhermanto, di Jalan Cagak Satelit KM 04 Rancabungur, Bogor, Jawa Barat, Jumat (31/8/2012).

Suhermanto menjelaskan yang dimaksud dengan asli buatan Indonesia adalah sistem yang dibawa satelit tersebut. "Yang 100 persen AIS-nya (Automatic Integrated System), untuk komponen kita masih secara bertahap. Jadi desain, pembangunan, dan pengujian itu semuanya dilakukan di Indonesia," ujar Suhermanto.

Suhermanto menjelaskan masih banyaknya komponen satelit yang diimpor karena beberapa faktor industri pendukung yang belum optimal di Indonesia.

"Pengembangan teknologi satelit adalah aktivitas mahal sebagai teknologi hilir. Penerapannya perlu dukungan teknologi hulu yang kuat, sementara kita belum memiliki industri pendukung yang kuat dan handal di bidang elektronika, industri material, regulasi frequensi yang kondusif, fasilitas aiternatif satelit, kebijakan pemerintah, dan masih ada lagi," ucap Suhermanto.

Satelit yang berbobot 75 kilogram ini sendiri masih akan terus dikembangkan. Fasilitas pemantau satelit ini sendiri ternyata sudah ada di sejumlah wilayah di Indonesia.

"Kita coba kembangkan algoritma untuk pengendalian, karena misi berikutnya butuh keakuratan yang tinggi. Namun kita punya fasilitas penerima data misi yang tersebar di Biak, Papua, Pare-Pare, Sulawesi Selatan, dan Bogor. Kalau kita kilas balik, kita bedakan dalam 3 fase, sampai 2003 fase pengkajian, 2003-2011 fase eksperimen, selanjutnya fase pengembangan," ujar Suhermanto.

Sebelumnya, Lapan dan Pusat Teknologi Antariksa berhasil membuat micro satelit pemantau yang memiliki sensor otomatis yang disebut AIS. Misi satelit dengan orbit sepanjang garis khatulistiwa ini sendiri adalah memantau pelayaran di Indonesia dan sebagai sarana komunikasi radio alternatif saat terjadi bencana.

(vid/mad)