Ke Ujung Buana Melanglang, Identitas RI Jangan Hilang

Laporan dari Stavanger

Ke Ujung Buana Melanglang, Identitas RI Jangan Hilang

- detikNews
Kamis, 30 Agu 2012 18:52 WIB
Ke Ujung Buana Melanglang, Identitas RI Jangan Hilang
Stavanger - Ke ujung buana mana pun warga Indonesia melanglang, hendaknya senantiasa mengingat asal muasalnya agar akar dan identitas Indonesia tidak hilang, terutama mengingat bahasa ibu.

Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Eslandia Esti Andayani pada Peringatan HUT ke-67 RI dan Halal Bihalal dengan masyarakat di Kverneviken, Stavanger, baru-baru ini.

"Budaya asing setempat yang baik-baik memang perlu ditiru, namun hendaknya juga tidak berhenti di negara asing bersangkutan, tapi tetap dipraktikkan saat kembali ke Indonesia,โ€ ujar Dubes.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di hadapan lebih dari 100 orang, Dubes menyampaikan apresiasinya kepada masyarakat Indonesia di Stavanger, yang tetap bersatu dan tidak melupakan tanah airnya, seperti ditunjukkan dalam berbagai kegiatan hari besar nasional termasuk Peringatan HUT RI.

Pada kesempatan sama, Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini yang sedang berpartisipasi dalam Konferensi Migas ONS 2012 di Stavanger, menyampaikan paparan singkat mengenai perkembangan terkini di Indonesia, khususnya rencana pembenahan kebijakan di sektor migas dan energi.

โ€œIndonesia bukan negara kaya, namun harga BBM-nya menempati urutan ke-137 di dunia, termasuk paling murah karena subsidi. Subsidi ini diusahakan akan dikurangi di masa mendatang,โ€ papar Wamen ESDM.

Menurut keterangan Fungsi Pensosbud KBRI Oslo Dyah Kusumawardani, mayoritas warga Indonesia di Stavanger merupakan mahasiswa dan ekspat (pekerja terdidik, red) di bidang perminyakan. Sebagian mengenal baik Wamen ESDM sebagai mantan dosen mereka di ITB dan memanfaatkan pertemuan itu untuk beramah-tamah.

Acara yang berlangsung pada Sabtu (25/8/2012) itu dimeriahkan dengan Tari Pendet, Tari Legong Keraton, lagu daerah, lagu populer, serta Poco-poco persembahan dari panitia dan anggota masyarakat. Sebelumnya berbagai kegiatan lomba telah digelar pada hari itu dan ditutup dengan pembagian hadiah bagi para pemenang.

Rangkaian kegiatan, menurut Ketua Panitia Ricky Agus Supriyadi, diorganisir secara mandiri oleh dan untuk warga Indonesia di Stavanger.

Sementara Esther, salah satu WNI yang sudah cukup lama tinggal di Stavanger, menambahkan bahwa kepanitiaan biasanya dipegang oleh mahasiswa. Sedangkan segala keperluan untuk acara, seperti makanan dan hadiah lomba, berasal dari sumbangan masyarakat Indonesia setempat.


(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads