Alat tersebut berhasil ditemukan dan dibawa Minggu (27/8/2012) malam kemarin, oleh anggota Basarnas ke Posko SAR yang berpusat di Bandara Temindung Samarinda.
"Alat itu kita duga komunikasi radio. Untuk itu kita bawa dari lokasi malam tadi (Minggu malam)," kata Kepala Sub Seksi Potensi Basarnas Kantor SAR VII Balikpapan, Abram Kolimon, kepada detikcom di kantor Bandara Temindung Samarinda, Senin (27/8/2012).
Setelah TPF KNKT tiba di Bandara Temindung, tim SAR langsung menyerahkannya kepada investigator KNKT Kapten Chaeruddin serta stafnya, Henry Poerborianto. Namun setelah diperiksa secara teliti, alat tersebut bukanlah alat komunikasi radio dari pesawat nahas tersebut.
"Oh, itu bukan alat komunikasi. Itu alat Altimeter," kata Chaerudin sebelum menaiki helikopter MD-500 menuju lokasi insiden Gunung Mayang.
Menurut dia, alat tersebut sudah tidak dapat dibaca lantaran kondisinya yang rusak sehingga tidak memungkinkan pihaknya membaca track record ketinggian pesawat.
"Altimeter terbakar, rusak. Tidak bisa dibaca. Alat itu untuk mengukur ketinggian," ujarnya.
Lantas, bagaimana dengan alat Emergency Location Transmitter (ELT) pada pesawat tersebut, setelah sebelumnya dipastikan tidak berfungsi untuk mengirimkan signal darurat apabila terjadi benturan, Chaeruddin mengaku juga belum mengetahui keberadaan alat tersebut.
"ELT-nya saya belum lihat, apakah kondisi rusak atau bagaimana, itu yang kita nanti cari di sana," tutup Chaeruddin.
Seperti diberitakan, Wakapolda Kaltim Brigjen Rusli Nasution dalam keterangan resminya mengatakan, pesawat tersebut ditemukan di titik koordinat LT 117 derajat 16 menit 57,3 detik serta LU 00 derajat 12 menit 34,3 detik. Diduga kuat, pesawat menghantam bukit di Gunung Mayang, Kutai Timur.
Empat penumpang masing-masing Kapten Marshal Basir sebagai pilot serta 3 orang penumpang Suyoto (Security Officer/Kementerian Pertahanan), Peter John Elliot (GM Elliot Geophysics International/WNA Australia) serta Jandri Hendrizal (staf Elliot Geophysics International), ditemukan tewas terbakar. Saat ini, keempat jenazah tengah menjalani proses identifikasi tim DVI Polda Kaltim di RSUD Abdul Wahab Syachranie Samarinda.
(ega/ega)











































