"Pak Basir itu pilot dengan jam terbang di atas 20.000 jam terbang," kata Chief Pilot PT Intan Angkasa Air Service Kapten Widhi, kepada wartawan di Kantor Bandara Temindung Samarinda, Minggu (26/8/2012).
Menurut Widhi, kemampuan Kapten Marshal Basir, tidak perlu diragukan lagi. Selain menjadi pilot pesawat tersebut, Marshal Basir juga menjabat sebagai Manajer Operasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ditanya lebih jauh terkait kondisi pesawat, Widhi menerangkan bahwa pesawat benar-benar berada dalam kondisi layak terbang, termasuk alat Emergency Location Transmitter (ELT).
"Alat ELT itu, bisa mentransfer signal kalau terjadi impact, benturan keras. Jadi, pesawat layak terbang termasuk ELT yang ada di pesawat itu," sebut Widhi.
Widhi sendiri enggan menduga-duga terkait penyebab hilangnya pesawat tersebut tanpa diketahui titik koordinat terakhir saat melakukan penerbangan untuk kepentingan pemetaan.
"Kita belum bisa ya menduga. Pesawat hilang kontak itu, bisa karena human error, bisa karena kondisi pesawat itu sendiri," tambahnya.
"Kalau mungkin terjadi benturan yang terlalu keras, justru bisa mengancurkan alat tersebut," terangnya.
Lantas bagaimana sejauh ini tentang dugaan ELT tersebut kehabisan energi listrik yang disuplai dari energi baterai, Widhi pun menepis dugaan tersebut.
"Tidak, tidak mungkin. ELT itu bisa tidak berfungsi ketika expired. Tapi yang jelas ELT yang ada, masih berlaku dan sekali lagi pesawat dalam kondisi baik," tutupnya.
Seperti diberitakan, pesawat Cessna PA-31 PK-IWH Piper Navajo terbang dari Bandara Temindung Samarinda, Jumat (24/8/2012) sekitar pukul 07.51 WITA, menuju Bontang, Kalimantan Timur. Petugas ATC Bandara Temindung hilang kontak sekitar pukul 08.04 WITA.
Pesawat mengangkut Marshal Basir sebagai pilot serta 3 orang penumpang Suyoto (Security Officer/Kementerian Pertahanan), Peter John Elliot (GM Elliot Geophysics International/WNA Australia) serta Jandri Hendrizal (staf Elliot Geophysics International). Pesawat tersebut hingga saat ini belum ditemukan.
Sebelum hilang kontak, pesawat sempat terbang di ketinggian 3.000 kaki hingga turun ke 500 kaki. Bahkan alat Emergency Location Transmitter (ELT) yang terpasang di pesawat tersebut tidak memberikan signal apapun, termasuk apabila terjadi kondisi yang membahayakan hingga darurat.
(van/van)











































