Seperti misalnya yang dialami Henaldi (36). Jakarta-Tasikmalaya yang biasanya ditempuh 4 jam, mesti dia tempuh selama 16 jam. Jalur Nagrek menjadi biang kemacetan.
"Berangkat jam 11 malam (Jumat), sampai Tasik jam 4 sore (Sabtu)," cerita Henaldi, Sabtu (18/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemacetan parah terjadi di Jalan Rancaekek sama turunan Nagrek," terang Henaldi, yang mudik bersama istri dan 2 anaknya.
Selama 16 jam perjalanan itu pun dia mesti beberapa kali beristirahat di pinggir jalan dan SPBU. "Sore sudah sampai rumah mertua, sudah kumpul. Semoga nanti arus balik ke Jakarta tidak mesti belasan jam," tutur Henaldi.
Kisah Henaldi dialami juga oleh Rita (34). Bersama suami dan anaknya, dia mudik ke Lampung. Dengan mobil keluarga, dia menyeberang melalui Pelabuhan Merak. Tapi apa yang terjadi, kemacetan panjang di daerah itu luar biasa.
Selama 18 jam, Rita dan keluarga 'tersandera' di Merak. Dia berangkat sejak Kamis (16/8) sore, dan baru bisa melintas Jumat (17/8) siang.
"Kendaraan anter berebut masuk. Terus tidak tertib, jadi akhirnya tertahan berjam-jam," tutur Rita yang sudah santai bersama keluarga di Lampung ini.
Apa yang dialami Rita dan Henaldi mungkin dialami juga oleh Anda-anda semua. Punya pengalaman soal tertahan berjam-jam juga? Silakan berbagi kisahnya ke redaksi@detik.com
(ndr/ndr)











































