Cerita Pemudik yang Harus Berjam-jam di Jalan Menuju Kampungnya di Yogya

Cerita Pemudik yang Harus Berjam-jam di Jalan Menuju Kampungnya di Yogya

Edward Febriyatri Kusuma - detikNews
Sabtu, 18 Agu 2012 11:36 WIB
Cerita Pemudik yang Harus Berjam-jam di Jalan Menuju Kampungnya di Yogya
ilustrasi
Jakarta -

Ratusan ribu kendaraan memadati jalur Pantura dan alternatif saat ini. Tak ayal para pemudik pun harus 'menikmati' kemacetan selama berjam-jam.

Salah satunya adalah Dicky. Dia dan keluarga berencana pulang kampung ke Yogyakarta.

"Awalnya ruas jalan di tol Cikampek belum terlalu ramai tapi akibat jumlah kendaraan yang terlalu berlebihan ada pengalihan arus lalu-lintas menuju Cikarang karena jumlah kendaraan yang terlalu berlebih," ujar Dicky saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (18/8/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dicky menceritakan ketika terjadi pengalihan arus, mobil yang dikendarai harus keluar tol di Cikarang menuju Karawang. Arus lalu lintas hingga jalur Pantura perlu ditempuh dalam waktu 12 jam dengan melalui jalur alternatif persawahan di Sukamandi hingga bertemu Jalan Raya Subang.

"Kita kembali lagi jalan biasa Pantura melewati Pamanukan, setelah Pamanukan terbilang cukung ramai lancar sampai dengan Indramayu baru laju kendaraan bisa ditempuh sampai dengan 80 km/Jam," ujar Dicky sembari mengeluhkan kejadian yang dialaminya.

Lebih lanjut ia menceritakan dirinya hampir seharian penuh berada di Jalan. Dari sejak berangkat, sampai km 50 setelah pintu Tol Cikopo dia harus menempuh 28 jam.

"Sampai dengan Pamanukan itu pun harus melewati jalur alternatif," sambungnya.

Dicky mengatakan sebelum daerah Pamanukan di rest area biasanya memang
ramai dengan motor yang beristirahat. Namun menurutnya tahun ini lebih ramai dari tahun-tahun sebelumnya.

"Selain itu jumlah pemudik tahun ini berbeda dengan sebelumnya karena macet total dan jumlah petugas yang mengatur lalu-lintas sangat sendikit sekali, baru sampai didaerah Indramayu banyak terlihat petugas jadi bebas macet," paparnya.

Dicky menceritakan suka-dukanya mudiknya selama perjalanan. Dirinya hanya bisa menikmati kemacetan itu karena mudik sudah menjadi tradisi keluarga bertemu.

"Selain itu banyak juga pengendara pemudik yang tidak menaati rambu-rambu dengan melawan arah. Tindakan dari petugas dihiraukan pemudik, menyebabkan arus lalu-lintas menjadi tampak kacau," tutupnya.

(edo/ega)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait