Insiden Salah Piala, Mega Tutup Olimpiade Sains Nasional

Insiden Salah Piala, Mega Tutup Olimpiade Sains Nasional

- detikNews
Sabtu, 28 Agu 2004 16:02 WIB
Pekanbaru - Presiden Megawati menutup Olimpiade Sains Nasional. Dua belas siswa diserahi piala oleh Mega. Namun beberapa siswa menolak. Rupanya karena salah piala.Acara penutupan Olimpiade Sains Nasional Ketiga Tahun 2004 berlangsung di Gedung DPRD Riau jalan Sudirman Pekanbaru pukul 14.00 WIB, Sabtu (28/8/2004).Pihak panitia penyelenggara terkesan tidak siap. Hal itu terlihat ketika Mega memberikan piala kepada 12 pemenang olimpiade dari berbagai tingkatan sekolah, masing-masing 4 siswa SD, SLTP, dan SLTA.Sejumlah piala yang diberikan Mega kepada pemenang ternyata tidak tepat sasaran. Padahal para pemenang sudah berdiri sesuai urutan, mulai dari tingkat SLTA, SLTA, SD.Awalnya Mega menerima piala dari salah seorang panitia untuk diserahkan kepada pemenang tingkat SLTA. Namun ketika Mega menyerahkan piala tersebut, sang siswa menolak."Bu, piala itu bukan milik saya," ujar siswa. Mega pun terperanjat. Ternyata piala yang dipegangnya untuk siswa SLTP. Piala itu pun dikembalikan Mega ke panitia dan minta gantinya.Setelah diganti, Mega kembali menyerahkan piala kepada siswa SLTA. Untuk kedua kalinya, siswa itu menolak. Ternyata piala itu untuk siswa SD. Piala itu pun dikembalikan ke panitia untuk diganti.Begitu mendapat penggantinya, Mega menyerahkan piala kepada siswa SLTA. Astaga! Lagi-lagi siswa itu menolaknya. Rupanya, piala itu masih untuk siswa SD. Setelah mengganti untuk keempat kalinya, baru pas. Siswa SLTA itu pun dengan senyum riang menerima piala dari Mega.Kejadian serupa berulang kali terjadi ketika Mega menyerahkan piala untuk siswa SLTP dan SD. Tawa geli para hadirin pun berkali-kali terdengar melihat insiden itu.Marahkah Mega? Meski jadi berkeringat dan puyeng, Mega tampak mesem-mesem saja. Memang bentuk piala itu semuanya hampir sama. Namun pada masing-masing piala terdapat tulisan yang berbeda mengenai tingkatan dan juara.Jika hadirin tertawa geli dan Mega mesem-mesem, tapi tidak halnya dengan Mendiknas Abdul Malik Fadjar dan Menag Said Agil Husin Al Munawar yang mendampingi Mega. Mereka terpaksa ikut sibuk mencari-cari piala yang pas agar insiden itu tidak berkepanjangan.Tapi yang paling tidak bisa tersenyum sedikit pun adalah Gubernur Riau Rusli Zainal yang turut mendampingi Mega. Dengan muka merah padam dan keringat dingin yang bercucuran, dia ikut juga mencari-cari piala yang pas. Lirikan matanya terlihat mencari-cari panitia yang bertanggung jawab untuk segera membantu.Sains Indonesia MerosotUsai insiden langka itu, Mega memberikan sambutan. Rusli Zainal bisa bernafas lega karena insiden tadi tidak disinggung Mega dalam sambutannya."Sejak menjadi Wapres, saya memang sudah dipesan untuk fokus dalam dunia pendidikan, khususnya dalam bidang sains. Saya sangat prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini, karena sebagian besar orang tua murid menyekolahkan anaknya di bidang non-sains. Perbandingan itu satu banding sepuluh," tutur Mega.Dia melihat dalam beberapa tahun terakhir, pendidikan bidang sains di Indonesia sangat merosot. Karena itu pemerintah membuat program Olimpiade Sains Tingkat Nasional sekali setahun.Menurut Mega, lemahnya orang tua murid menyekolahkan anaknya di bidang sains akan berpengaruh pada keterlambatan anak didik masa depan untuk menguasai bidang teknologi."Banyak orang punya intelektual tinggi di bidang sains. Namun banyak yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar. Melihat keterbatasan itu, diharapkan pemerintah daerah melalui Otonomi Daerah memperhatikan anak-anak didiknya yang berprestasi agar disekolahkan," kata Mega.Mendiknas Abdul Malik Fadjar mengungkapkan, para juara olimpiade, khususnya juara satu umum mendapat Rp 1 miliar yang disumbangkan dari PT Sampoerna.Dia berjanji para juara olimpiade bisa masuk ke perguruan tinggi tanpa test di ITB, UI dan UGM, sepanjang siswa tersebut mengambil jurusan sesuai bidangnya."Sebab selama ini ada juga siswa yang sekolah jurusan Fisika, tapi ketika masuk perguruan tinggi malah mengambil jurusan matematika. Kalau tidak sesuai bidangnya, maka harus melalui jalur umum, yakni test," tegas Malik Fadjar. (sss/)


Berita Terkait