"Saat ini ada fenomena deparpolisasi. Yaitu fenomena psikologis dimana pemilih semakin menjauh dengan partai. Intinya semakin nggak suka dengan partai," demikian kata peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Burhanuddin Muhtadi.
Hal itu dikatakan Burhanuddin menanggapi paparan survei Jaringan Suara Indonesia (JSI) di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (12/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara wakil dari parpol seperti Sekjen Golkar Idrus Marham mengatakan survei yang mendudukkan Golkar sebagai partai terpopuler adalah instrumen untuk memotret dinamika politik.
"Pemilih itu sangat cair, hasil survei pasti tidak akan sama penuh. Opini harus dijaga, isu harus terus diperbaiki. Golkar dalam memelihara isu menggunakan karya sebagai instrumen politik," kata Idrus.
Sedangkan Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo menganggap wajar hasil JSI yang menempatkan Golkar paling populer.
"Golkar paling unggul adalah wajar. PDIP belum bisa secanggih Golkar dan PAN. Kunci kememangan parpol tergantung dari calon legislatifnya. Arah pemikiran PDIP tidak lepas dari pola pikir Bung Karno. Keinginan muncul calon alternatif belum ada calegnya belum dideklarasikan PDIP, memang belum saatnya. Lihat momentum yang tepat. Jadi tidak muncul calon instan," tutur Tjahjo.
Sementara politisi PAN Tjatur Sapto Edy tidak percaya dengan hasil survei. "Saya tidak pernah percaya pada survei parpol karena tidak disertai caleg. Arahan PAN bukan pada image building tapi pada respect building. Membuat pendekatan dari hati ke hati, seperti progtam MAPAN yang kemarin dilaksanakan," kata dia.
(mad/mad)











































