Kuli Angkut di Terminal Kalideres Siap Bantu Bawa Barang Pemudik

Kuli Angkut di Terminal Kalideres Siap Bantu Bawa Barang Pemudik

Silvanus Alvin - detikNews
Senin, 13 Agu 2012 12:26 WIB
Jakarta - Jelang awal arus mudik, Terminal Kalideres semakin dipadati oleh orang-orang yang mau pulang kampung. Seperti biasa, pemudik-pemudik ini membawa banyak barang bawaan.

Bahkan, barang bawaan itu melebihi kapasitas yang dapat dibawa oleh kedua tangannya. Pastinya, dengan kondisi yang demikian, pemudik akan kerepotan untuk membawa barang bawaannya menuju kendaraan yang mereka tumpangi.

Namun, tenang saja, di Terminal Kalideres, pemudik dapat memakai jasa angkut barang bawaan (porter). Para porter ini memakai baju dinas atau rompi berwarna oranye. Di bagian belakang baju yang mereka kenakan, terdapat tulisan "Terminal Bus AKAP Kalideres".

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Biasanya, mereka akan menghampiri sekaligus menawarkan jasa mereka dengan ramah. "Yuk, pake roda, lima ribu saja," ucap Munir, salah seorang porter yang menawarkan jasanya dengan ramah sembari menebarkan senyumnya.

Jasa porter ini bisa dibilang unik. Mengapa? Karena tidak ada harga tetap yang dipatok untuk jasa yang mereka tawarkan. "Tidak tentu. Kadang ada yang kasih Rp 5.000, kadang ada yang kasih Rp10.000. Bahkan, pernah ada yang kasih Rp2.000. Kita tidak bisa memaksa mereka untuk bayar berapa," terang Munir.

Apabila barang yang dibawa pemudik sangat banyak, hingga satu porter tidak mampu membawa, maka anggota porter lain akan dikerahkan. Meski demikian, biaya yang pemudik harus bayar tidak bertambah.

"Kalau tidak cukup, kita panggil temen. Kalau barang banyak biasa kita panggil tiga orang. Dapat cuma Rp10.000, yah kita bagi tiga," imbuh Munir, yang memakai topi bundar.

Soal keamanan, jangan khawatir. Para porter ini merupakan anggota dinas kebersihan Terminal Kalideres. "Kita ini karyawan kebersihan, bukan orang luar. Barang aman sama kita. Selalu kita suruh hitung barang bawaan orangnya, sebelum dan sesudah," jelas Munir.

Selain itu, para porter ini tidak suka memaksa. Bila mereka menawarkan jasanya dan orang yang ditawarkan menolak, maka mereka akan menerimannya. "Kami tidak suka maksa. Kalau mereka tidak mau, ya sudah, tidak apa-apa," ungkapnya.

Jasa porter ini sudah digeluti oleh Munir dan teman-teman dinas kebersihan sejak beberapa tahun yang lalu, jelang lebaran. Mereka melakukan ini atas inisiatif sendiri. Alasan mereka melakukan ini dikarenakan mereka tidak mendapat Tunjangan Hari Raya (THR).

"Kami begini ya karena tidak dapat THR," keluh Munir. "Kita hanya dapat bingkisian, yang isinya cuma kopi dua ribuan, gula, itu mana bisa dibilang THR," tambahnya.

(ega/gah)


Berita Terkait