Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Wahyu Dinata pada diskusi Perludem "Ancaman Serius Politisasi Isu SARA Dalam Pilkada" di Tjikini Cafe, Jl.Cikini Raya no. 17, Jakarta Pusat, Sabtu (11/8/2012).
Menurut Wahyu, waktu di putaran pertama yang ramai adalah tentang isu etnis yang menyerang Calon gubernur. Sedangkan di putaran kedua ini yang diserang adalah wakilnya yang di serang dengan isu agama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wahyu menambahkan isu SARA di putaran kedua itu ada 3 bentuk."Pertama bentuk isu SARA informatif, kedua bentuk isu SARA hasutan atau provokasi dan yang ketiga isu SARA dalam bentuk fitnah," ujarnya.
Dalam putaran kedua ini seharusnya masyarakat seharusnya diberikan apa visi dan misi para calon gubernur. Bukan malah menyebarkan isu-isu SARA yang digunakan sebagai alat saling menjatuhkan.
"Masyarakat tidak melihat sosok mereka tapi visi dan misi mereka. Belum ada sampai saat ini satu pun kandidat memberikan visi dan misi buat jualan. Jadi bukan saling menghasut dan provokasi untuk jatuhkan satu sama lain. Yang pasti isu SARA nggak mungkin hilang," imbuh Wahyu.
(spt/gah)










































