"Kalau untuk kejadian di Karawang ada berbagai kemungkinan, seperti gangguan sesmik atau sonarnya terganggu, sonar pertambangan di lepas pantai, sonar kapal selam, sehingga paus sperma jadi terdampar," ujar Ketua Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Pramudya, saat dihubungi detikcom, Jumat (10/8/2012).
Menurut Pramudya selain masalah sonar, kondisi kesehatan paus perlu diperhatikan. Karena umumnya paus sperma apabila sakit akan menyendiri dari kawanannya.
"Pantai di Karawang navigasi topografinya berbukit pasir, kadang paus berpikiran lautnya lebih dalam. Tidak tahunya berada dilepas pantai," tutur Pramudya.
Menurut Pramudya khusus untuk peristiwa di Yogyakarta, terdamparnya hiu paus kemungkinan terbesar adalah mereka sedang mengejar makanan. Karena hiu paus pemakan plankton.
"Ketika mereka mengejar makanan tiba-tiba air menjadi surut. Saat ini pasang surut begitu cepat di sepanjangan perairan Indonesia. Dalam dua dua jam air langsung surut," katanya.
Pramudya menambahkan hiu paus lebih rentan mati dibandingkan paus. Hal ini karena perbedaan sistem pernapasan dari kedua jenis makhluk tersebut.
"Kejadian di Yogya, jadi semua hiu itu tidak mempunyai gelembung udara karena bernapas dengan insang sedangkan paus memiliki gelembung udara sehingga apabila berada dilepas pantai ikan paus masih dapat bertahan hidup cukup lama," ungkapnya. (ndu/mok)











































