"Kami juga akan mengevaluasi efektivitas Setgab. Saya pribadi melihat setgab sudah tidak efektif, dan perlu dikaji apakah berpengaruh positif atau justru negatif terhadap elektabilitas PAN dan Bang Hatta. Jadi semua sisi akan kita introspeksi dan evaluasi. Intinya, meskipun sangat menyangsikan akurasi dan objektifitas survei politik, kami tetap akan introspeksi dan melakukan evaluasi," kata Dradjad kepada detikcom, Jumat (10/8/2012).
Menurut Dradjad, hasil survei politik ini memang membingungkan. Variasi antar lembaga tinggi sekali, bahkan untuk lembaga survei yang sama, variasi antar waktunya cukup tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun terlepas dari kritik objektif tersebut, karena cukup banyak lembaga survei yang menempatkan PAN pada posisi elektabilitas rendah, mau tidak mau DPP PAN akan introspeksi untuk memperbaikinya. Waktu sudah mendesak, tinggal sekitar 20 bulan lagi menjelang pileg.
"Melalui introspeksi tersebut, program-program yang bisa membuat PAN lebih dipercaya dan dipilih masyarakat akan digiatkan lagi,"tegasnya.
Pandangan senada disampaikan Ketua Barisan Muda PAN Jateng, Aria Ganna. Menurutnya, prinsip koalisi adalah semua anggota koalisi bertekad terus bersama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
"Lha kalau kita lihat sekarang parpol dalam koalisi justru saling menjelek-jelekkan. Apakah koalisi yang seperti ini masih menemui urgensinya? Kondisi ini semakin jauh dari identitas PAN sebagai partai reformasi yang merakyat. Sejarah PAN didirikan oleh Amien Rais bukan untuk mikir perut sendiri tapi semangat selamatkan Indonesia! Sudah kembali ke semangat itu saja,"katanya.
Center for Strategic and International Studies (CSIS) kembali merilis survei soal elektabilitas parpol. Survei digelar pada 6 hingga 19 Juli 2012. Sampel yang digunakan sebanyak 1.480 responden, dengan margin of error kurang lebih 2,55 persen dan confidence level 95 persen dan tersebar di 32 provinsi (minus Papua) dengan metode tatap muka.
Survei mengondisikan Pemilu 2014 digelar pada saat dilakukan proses wawancara. Pewawancara tidak menyebutkan tokoh, nama ataupun lambang partai dan mencatatkan hasil dari yang pertama kali disebutkan oleh responden. Berikut hasilnya:
1. Partai Golkar 18 persen
2. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 11,6 persen
3. Partai Demokrat 11,1 persen
4. Partai Gerindra 5,2 persen
5. PPP 3 persen
6. PKB 2,8 persen
7. PKS 2,2 persen
8. PAN 2 persen
9. Hanura 1,5 persen
10. NasDem 1,6 persen
11. Belum punya pilihan 41 persen
(van/riz)











































