Diduga Berisi Bungker, Bagian Belakang Balaikota Solo Mulai Digali

Diduga Berisi Bungker, Bagian Belakang Balaikota Solo Mulai Digali

Muchus Budi R. - detikNews
Kamis, 09 Agu 2012 15:06 WIB
Diduga Berisi Bungker, Bagian Belakang Balaikota Solo Mulai Digali
Pekerja mulai menggali bagian belakang Balai Kota Solo (muchus br/detikcom)
Solo - Tim dari Balai Arkeologi Yogyakarta mulai melakukan ekskavasi terhadap dugaan keberadaan bungker di kompleks Balaikota Surakarta. Penggalian akan dilakukan selama 4 hari ke depan. Jika ternyata di lokasi tersebut memang diketemukan bungker maka selanjutnya akan dipelajari tentang nilai kesejarahannya.

Penggalian dilakukan oleh pekerja, Kamis (9/8/2012) siang. Para pekerja di bawah pengawasan Balai Arkeologi Yogyakarta yang membawahi Jateng, DIY, dan Jatim. Selain itu hadir pula beberapa staf dari
Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng.

Informasi tentang keberadan bungker di kompleks Balaikota Surakarta telah cukup lama diketahui, terutama dari informasi para tetua yang menjadi saksi sejarah keberadaannya. Kemudian Pemkot Surakarta melakukan penelitian dan kajian internal hingga akhirnya didapatkan peta lama yang menunjukkan keberadaan bunker di kompleks bekas rumah dinas residen jaman Belanda itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari berbagai informasi dan kajian historis, diketahui bahwa bungker kuno tersebut diduga terletak di bagian belakang, tepatnya di arah barat laut kompleks balaikota. Lokasi yang diperkirakan merupakan pintu masuk bungker, saat ini berupa gundukan tanah yang terletak di halaman eks Kantor Dharma Wanita Pemkot Surakarta yang gedungnya telah dibongkar.

"Tim akan bekerja hingga Senin mendatang. Selanjutnya kalau nanti memang diketemukan bungker di lokasi tersebut, akan dilakukan pengkajian tentang kondisi dan nilai kesejarahannya. Jika memang memiliki nilai tinggi maka bangunan tersebut tentunya akan dilindungi sesuai UU yang berlaku," ujar Kepala Pokja Publikasi BP3 Jateng, Wahyu Kristanto, di lokasi penggalian.

Sejumlah saksi sejarah memastikan keberadaan bungker di lokasi yang sekarang menjadi gundukan tanah tersebut. Mujiyo, 82 tahun, mengatakan pada tahun 1947 dia sering bermain di dalam bungker yang saat itu disebut guwa landa (gua Belanda). Warga Kampung Baru yang berada tepat di belakang balaikota tersebut memperkirakan bungker itu mencapai panjang 15 meter, lebar 10 dan tinggi 3 meter.

"Lokasi ini dulu merupakan taman rumah dinas Residen Belanda. Bungker itu membujur dari selatan ke utara. Ada dua pintu yang kesemuanya menghadap ke selatan. Saat saya sering bermain di dalamnya, saat itu kondisinya masih utuh berupa bangunan tembok berlapis semen dan tidak ada barang apapun di dalamnya," ujar Moedjijo di lokasi.

Sedangkan saksi Heru mengatakan mengetahui bungker itu terakhir kali antara tahun 1967-1968, dengan kondisi yang sudah tidak terawat dan bagian bawah bungker tergenang air. Dia menduga bungker itu tertimbun karena selanjutnya lokasi yang berada di pojok barat laut itu memang dijadikan untuk tempat pembuangan tanah jika Pemkot membangun gedung baru.

Sementara itu, seorang rekanan Pemkot Surakarta untuk pelaksanaan proyek-proyek pembangunan kompleks balaikota Surakarta, Supar, menuturkan kemungkinan besar sisi bawah atap bungker telah rusak ketika Pemkot memasang pipa instalasi air pada tahun 2006. Persis di sebelah utara lokasi yang diduga merupakan bungker yang tertimbun itu, saat ini memang menjadi bangunan sentral pengaturan sirkulasi air di kompleks balaikota.

"Saat itu kami hendak memasang pipa air untuk disalurkan ke berbagai lokasi. Saat itu pekerja yang melakukan penggalian menemui kesulitan karena membentur benda keras. Setelah dicek ternyata berupa tembok. Tapi karena tidak tahu bahwa itu bungker, pekerja tetap menjebol bangunan itu hingga berlubang, karena ternyata tengah bangunan kosong dan berisi air. Pekerja juga melubangi di sisi lain untuk memasang pipa," ujar Supar.

(mbr/trw)


Berita Terkait