"Survei ini mengkondisikan apabila pemilihan presiden 2014 digelar pada saat dilakukan proses wawancara. Survei ini juga melihat naik turunnya elektabilitas calon-calon presiden yang biasanya muncul di publik, dengan melihat survei yang pernah dilakukan CSIS pada Januari 2012," ujar peneliti CSIS, Philips Vermonte.
Hal itu disampaikan dia saat mempresentasikan hasil surveinya di kantor The Jakarta Post, Jl Palmerah Barat, Jakarta Pusat, Rabu (8/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Survei CSIS Februari 2012 mengindikasikan dukungan yang mulai signifikan terhadap salah satu nama calon yang beredar yaitu Prabowo Subianto," terang Philips.
Survei CSIS itu menggunakan sampel 1.480 responden yang tersebar di 32 provinsi (minus Papua), dengan metode tatap muka. Margin of error kurang lebih 2,55 persen dan confidence level 95 persen.
"Persepsi publik mengenai incumbent Presiden SBY yang dianggap indecisive (lamban dan tidak tegas) membuka ruang bagi calon yang menampakkan citra sebaliknya keras dan tegas," tuturnya.
Ia menjelaskan hasil survei juga menunjukkan bahwa publik menginginkan presiden yang tegas, berwibawa dan terkenal, yaitu 42,7 persen dari responden.
Berikut hasil Survei CSIS soal elektabilitas capres 2014:
1. Prabowo Subianto 14,5 persen (naik 7,8 persen)
2. Megawati 14,4 persen (naik 4,4 persen).
3. Jusuf Kalla 11,1 persen (naik 5,5 persen).
4. Aburizal Bakrie 8,9 persen (naik 3,7 persen).
5. Wiranto 4,1 persen (naik 2,4 persen)
6. Sri Sultan 2,4 persen (turun 0,7 persen)
7. Hatta Rajasa 1,6 persen (turun 0,7 persen)
8. Ani Yudhoyono 1,6 persen (turun 1,4 persen)
9. Hidayat Nur Wahid 1,5 persen (turun 0,7 persen)
10. Mahfud MD 1,4 persen (turun 0,6 persen)
11. Dahlan Iskan 1,2 persen (tetap)
12. Anas Urbaningrum 0,8 persen (turun 0,4 persen)
(iqb/vta)











































