"Sejak kecil, saya tumbuh di lingkungan yang plural, di tengah berbagai etnis, ada Tionghoa, Arab, dan India. Maka saat Lebaran, di rumah akan tersaji berbagai hidangan, kiriman dari tetangga-tetangga. Sebaliknya, pada hari besar agama lain pun, keluarga turut sibuk mengirim berbagai sajian untuk para tetangganya," kata Foke dalam pidatonya di Gedung Gereja Baru GBI Mawar Saron, Kelapa Gading Permai, Jakarta Utara, Rabu (8/8/2012).
Foke mengungkapkan pidatonya tersebut untuk menciptakan Jakarta sebagai barometer keberagaman. "Jakarta yang seperti itu yang kita inginkan, Jakarta yang bisa jadi barometer keberagaman di Indonesia," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Buktinya harga tanah di Kelapa Gading sudah mahal, hampir sama dengan harga tanah di kawasan Menteng Jakarta Pusat. Untuk itu bila Jakarta aman, perekonomian Jakarta akan semakin meningkat," ucap Fauzi.
Jadi, saya ingin kota Jakarta lebih maju, aman, dan semakin sejahtera tanpa terkecuali. Sebab, hanya dengan ketenangan dan kedamaian perekonomian di Jakarta bisa tumbuh dan berkembang," lanjutnya lagi.
Terkait agendanya di Gereja, Foke mengaku diundang bertemu dengan pendeta dari berbagai gereja. Dua pendeta yang turut diundang sempat menyampaikan keluhan mereka soal proses menjalankan ibadah.
"Saya diundang oleh sahabat saya Pak Jacob Nahway (pimpinan Gereja Mawar Saron), dan saya diminta menjelaskan kepentingan kita bersama untuk ke depan. Saya tegaskan bahwa di negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ini, tidak ada ruang untuk isu SARA," ujar Fauzi.
(vid/mok)











































