Hati dari Sapi Berpenyakit Ditemukan di Pasar Wonodri Semarang

Hati dari Sapi Berpenyakit Ditemukan di Pasar Wonodri Semarang

- detikNews
Rabu, 08 Agu 2012 06:01 WIB
Semarang - Dinas Pertanian Kota Semarang bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng melakukan sidak daging di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Penggaron dan pasar Wonodri, Semarang, pagi ini. Dari sidak tersebut ditemukan hati sapi yang tidak layak dikonsumsi.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kota Semarang, Sutrisno Jatmoko, mengatakan ciri hati sapi yang tidak layak konsumsi tersebut adalah bertekstur keras dan ada lubang-lubang kecil bekas cacing. Hati sapi yang keras serta memiliki bekas cacing mengindikasikan bahwa hal itu disebabkan oleh obat-obatan yang diberikan karena sapi mengidap penyakit cacing hati.

"Daging itu seharusnya dibuang dan tidak dijual," kata Sutrisno usai sidak di Pasar Wonodri, Semarang, Rabu (8/8/2012) pagi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sutrisno menerangkan daging yang di stok ke pasar Wonodri mayoritas berasal dari RPH Ampel, Boyolali. "Meski tidak berbahaya, tapi sebaiknya dipisah dulu," imbuhnya.

Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jateng, Witono menambahkan, untuk stok daging di Jateng hingga kini masih dapat terpenuhi. Angka kebutuhan 48.000 ekor sapi dirasa masih aman.

"Jateng punya stok 65.000 ekor, berarti kita aman," tegasnya.

Witono menambahkan, jika di pasar masih ada kenaikan harga sapi, maka hal itu bukan disebabkan oleh kurangnya stok di Jateng namun karena permintaan konsumen yang meningkat sehingga pedagang menaikkan harga.

"Hal ini karena adanya sentimen pasar, bukan karena menipisnya stok daging sapi di Jateng," ujar Witono.

Dari sidak yang dilakukan hari ini, Pemkot maupun Pemrov tidak menemukan adanya daging sapi gelonggongan, ayam tiren, ataupun daging sapi betina produktif. Meski demikian diharapkan sidak tersebut bisa mengontrol peredaran daging menjelang lebaran.

Sedangkan pedagang daging yang hari ini kedapatan masih menjual hati sapi tidak layak konsumsi mendapatkan peringatan dan pengarahan. "Diharapkan pedagang juga memperhatikan kesehatan konsumen," tutup Sutrisno.

(alg/trq)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads