"Ini standar kualifikasinya yang nggak masuk. Sudah diusahakan dengan adanya paragames, tapi memang nggak lolos, yang lolos 4 orang. Mereka tidak memenuhi syarat karena masih kurang pengalaman pertandingan di luar negeri. Itu ada syarat-syaratnya tersendiri," kata Ketua Kontingen Paralympic Indonesia, Prof James Tangkudung.
Hal itu dikatakan James, usai mengantarkan keempat atlet paralympic itu mengurus visa biometrik di Kedubes Inggris di Gedung Deutsche Bank, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (7/8/2012).
Keempat atlet yang lolos adalah:
1. Agus Ngaimin (28), atlet renang, difabel dengan kursi roda.
2. Setiyo Budi Hartanto (26) dari Temanggung, atlet lompat jauh dan triple jump atau lompat jangkit, difabel dengan kondisi tangan sebelah kiri sampai siku.
3. David Jacob (35) dari Jakarta, atlet tenis meja, difabel tangannya mengecil sebelah kanan.
4. Ni Nengah Widiasih dari Bali, atlet angkat berat, difabel memakai kursi roda.
Nah dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka mencoba meraih prestasi dengan semangat yang ada. Agus misalnya, setelah berusaha ingin mengikuti Paralympic Games tingkat dunia sejak tahun 2004, akhirnya lolos tahun ini.
"Target saya masuk 8 besar. Saya pernah ikut Asia Paragames di tahun 2010 dan 2008. Saya dapat emas terus. Alhamdulillah, saya selalu dapat emas dari pertandingan tersebut," kata Agus.
Semangat yang sama juga ditunjukkan rekan Agus, Setiyo, David dan Widiasih.
"Saya mengandalkan lompat jangkit karena rekor dunia 14,40 meter. Saya pernah ikut lomba di Solo 13,66 meter. Saya optimislah," kata Setiyo yang sebelumnya ikut ASEAN Paragames di Solo.
Sementara David mengaku sudah berminat pada cabang olahraga tenis meja sejak berusia 10 tahun.
"Saingan terberat saya untuk olimpiade ini dari China, Spanyol dan Polandia. Saya memulai aktif di Paragames sejak 1991 di Jakarta," jelas David.
Sedangkan Widiasih yang mengaku baru pertama kali ikut Paralympic Games tingkat dunia ini tak henti berlatih pagi-sore.
"Latihan setiap hari kecuali Kamis dan Minggu libur. Latihannya 2-2,5 jam per hari, kadang pagi , kadang pagi dan sore, tergantung vitalitas," kata perempuan yang sudah 3 kali mengikuti ASEAN Paragames dan pernah menyabet medali perak saat di Malaysia ini.
(nwk/mad)











































