Tokoh Senior Golkar Nilai Pencapresan Ical Belum Final

Tokoh Senior Golkar Nilai Pencapresan Ical Belum Final

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Minggu, 05 Agu 2012 14:23 WIB
Tokoh Senior Golkar Nilai Pencapresan Ical Belum Final
Foto: detikcom
Jakarta - Tokoh senior Golkar yang hingga kini aktif di DPP Golkar, Anton Lesiangi, menilai pencapresan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie belum final. Pencapresan Ical memang telah dideklarasikan, namun segala kemungkinan masih bisa terjadi.

"Belum final menurut saya. Saya setuju bahwa rapim kemarin harus menetapkan Ical sebagai capres. Kemarin 1 Juli deklarasi itu baru sampai memenuhi persyaratan organisasi, tapi apakah betul rakyat ingin dia jadi presiden? Artinya ini harus melalui mekanisme survei terbuka," kata Anton kepada detikcom, Minggu (5/8/2012).

Survei yang dilakukan juga tidak boleh survei yang dilakukan oleh lembaga survei yang memang dipesan khusus. "Harus konsekuen, karena masih ada waktu dua tahun lagi. Berdasar survei terakhirnya Denny JA kan nama yang muncul yaitu Jusuf Kalla, Megawati, Prabowo, baru Ical," kata Anton.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Anton, kalau kemudian popularitas Ical di survei kurang kuat, masih ada tokoh yang bisa dicapreskan Golkar. Dia menyebut tokoh yang juga pantas dicapreskan Golkar adalah mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla.

"Figur alternatif Golkar ya Pak JK. Kenapa dia memilih jadi Ketua PMI, karena di situ dia bicara darah untuk rakyat, jadi dia sudah ada deposito untuk pilpres 2014, dia juga sudah jadi ketua Dewan Masjid, itu pun massa. Ingat waktu pilpres 2009 lalu yang bisa mengalahkan Pak JK hanya Pak SBY, besok sudah tidak ada lagi, kalau Pak JK nyapres saya doakan dari Golkar," katanya.

Selain itu, Anton juga melihat beberapa tokoh muda yang bisa juga diajukan Golkar di pilpres 2014. Minimal untuk didorong menjadi cawapres.

"Di Golkar tokoh muda yang mungkin jadi cawapres itu Hadjriyanto Tohari dan Priyo Budi Santoso, seperti dari PDIP ada Ganjar Pranowo, kalau dari Patai Demokrat ya Anas lah yang paling bagus. Anas itu dulunya kader Golkar karena setiap hari di ruangannya Pak Akbar Tanjung, baru setelah keluar KPU dia masuk Partai Demokrat," tandas Anton.

(van/vit)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads