"Iya kesana itu dipimpin oleh Pak Utut Adianto, Saya nggak ingat yang lain, tapi ada 4 orang anggota fraksi Partai Demokrat," kata anggota Komisi X DPR Zufadhli saat dihubungi wartawan, Jumat (3/8/2012).
Zulfadhli berangkat bersama beberapa temannya dari fraksi Partai Golkar. Antara lain Wakil Ketua Komisi X DPR waktu itu, Rully Chaerul Azwar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggota Komisi X DPR dari PD Rinto Surbekti menyebut beberapa anggota FPD juga ikut ke sana. Dia sendiri tidak ikut ke sana. "Pak Jefri, Pak Albert, Pak Juhaeni Ali," katanya.
Dia juga membenarkan anggota Komisi X yang berasal dari artis Nurul Qomar juga ikut. "Iya,"ungkapnya.
Namun saat ditanya apakah benar mereka mendapatkan sarung dan uang makan 5 ribu USD, tak ada yang mau menjawab.
Dalam sidang korupsi PON terungkap Komisi X DPR RI menerima uang Rp 9 miliar. Dana itu diberikan Pemprov Riau untuk meloloskan anggaran APBN.
Hal itu disampaikan Lukman Abbas sebagai saksi dipersidangan dengan terdakwa Eka Dharma di PN Pekanbaru, Kamis (2/8/2012). Lukman Abbas yang statusnya tersangka menjelaskan, pihaknya memberikan uang ke Komisi X DPR.
Uang itu, kata Lukman, diberikan ke Komisi X dari Fraksi Golkar untuk meloloskan mata anggaran APBN untuk PON Riau senialai Rp 250 miliar. Jika anggaran itu lolos, maka Pemprov Riau menyediakan uang sebanyak Rp 9 miliar. Lukman Abbas menjelaskan, uang itu diberikan langsung ke Jakarta. "Uang itu diantara sopir saya ke DPR dan diterima oleh Kahya Muhzakir," kata Lukman Abbas, kemarin.
Masih menurut Lukman Abbas, dana Rp 9 miliar untuk DPR RI itu, dikumpulkan dari 4 BUMN yang menggarap proyek venue dan penunjang PON, yakni Adhi Karya, Wijaya Karya, Pembangunan Perumahan, dan Waskita Karya.
(van/fdn)










































