Parpol Perlu Beri Ruang Figur Alternatif Tampil di Pilpres 2014

Parpol Perlu Beri Ruang Figur Alternatif Tampil di Pilpres 2014

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 02 Agu 2012 05:53 WIB
Parpol Perlu Beri Ruang Figur Alternatif Tampil di Pilpres 2014
Foto: detikcom
Jakarta - Pilpres 2014 diprediksi akan didominasi kandidat capres dan cawapres yang itu-itu saja. Sebenarnya dibutuhkan figur-figur alternatif untuk Pilpres 2014.

Pengamat politik Gun Gun Heryanto memandang banyak figur alternatif yang sebenarnya potensial untuk Pilpres 2014. Sayangnya, kemunculan para figur ini terhambat karena aturan partainya sendiri.

"Soal Capres 2014, sebenarnya kalau partai-partai terutama partai menengah dan besar itu lebih terbuka maka kemungkinan besar masuknya nama figur alternatif ke dalam bursa pencalonan presiden 2014 akan makin banyak. Sebenarnya kan banyak figur-figur tokoh yang memiliki kapabilitas, profesionalitas serta penerimaan memadai dari khalayak, hanya terhambat oleh tradisi partai-partai kita yang masih feodal-oligarkis-transaksional,"kata Gun Gun kepada detikcom, Kamis (2/8/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Gun Gun, feodalisme merujuk kepada senioritas yang tidak memungkinkan figur alternatif bergerak bebas. Sementara oligarkis membuat keputusan mengenai pencapresan hanya diputus segelintir elite.

"Feodal merujuk pada ikata-ikatan senioritas, patron-client, dan figure centris. Oligarkis merujuk pada keputusan pencapresan yang hanya diputuskan oleh segelintir elite parpol, sementara pengurus daerah hanya diminta legitimasi formalistiknya. Transaksional ditandai dengan sejumlah persuasi uang sehingga politik menjadi 'high cost'. Pengendalian faksi-faksi di partai melalui strategi 'reward power' ini kerap mereduksi bahkan merestriksi peluang figur-figur alternatif," ungkapnya.

Menurutnya sudah saatnya partai itu lebih 'outward looking' melihat sejumlah tokoh transformatif yang begitu banyak di bangsa ini. Idealnya memang partai memodernisasi pancapresan dengan memadukan antara sistem konvensi (primary election) dengan survei-survei elektabilitas.

"Konvensi akan menciptakan skema demokrasi internal sekaligus kemungkinan partai bisa merekrut sejumlah tokoh bangsa yang punya potensi. Sementara survei merupakan pendekatan ilmiah untuk melihat posisi si figur dalam persepsi publik,"sarannya.

Namun sayangnya ada saja alasan parpol menutup pintu pencapresan melalui metode survei atau konvensi terbuka. "Hanya masalahnya, di kita kan partai-partai tidak mau konvensi karena alasan mereka bisa memacu konflik internal. Menurut saya sih, alasan itu terlalu mengada-ngada dan terkesan phobia. Karena kalau sudah diinstitusionalisasikan juga lambat laun akan tercipta atmosfir demokratis dalam pencapresan. Sekarang yang dominan memang masih cara-cara oligarkis, dampaknya hanya mereka yang mengendalikan DPP lah yang dengan mudah dicapreskan,"jelas Gun Gun.

Gun Gun menilai orang-orang yang punya loyalitas pada partai, punya trackrecord bagus, serta tidak punya cacatan buruk dalam hal etis-politis dan selama ini kerap diposisikan sebagai secondline di internal partai perlu dimunculkan sebagai figur alternatif.

"Saatnya mereka diberi endorsement untuk menjadi aktor-aktor yang bertarung dalam bursa Capres 2014. Jadi, orang seperti Puan Maharani, Priyo Budi Santoso, Pramono Anung, Anis Matta, bisa mulai diproyeksikan untuk regenerasi kepemimpinan nasional. Seperti Irman Gusman juga bisa saja didorong. Kepala-kepala daerah yang sukses juga figur-figur di luar parpol yang punya visi kebangsaan dan kenegaraan yang bagus serta punya jejak rekam bagus, bisa saja disosialisasikan dan didorong oleh banyak pihak,"tandasnya.

(van/riz)


Berita Terkait