Mereka tersebar di hutan-hutan kepala sawit dengan kegiatan sehari-hari memungut sisa kelapa sawit untuk ditukarkan sejumlah uang.
"Dari sekitar 52 ribu anak TKI yang berusia antara 6 hingga 12 tahun, baru sekitar 12 ribuan yang sudah diikutsertakan dalam program Community Learning Centre (CLC)) bentukan KJRI dengan LSM asal Swedia, Humana Borneo Aid," kata Konsuler Sosial-Budaya KJRI Kinabalu, Iman Rokhidi, kepada detikcom, Rabu (1/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau satu guru mengajar 40 orang anak, maka bisa dibayangkan berapa jumlah guru yang harus didatangkan dari Indonesia," ujar Iman Rokhidi.
Dari sekitar 12 ribu anak TKI yang telah mendapat pendidikan dasar membaca, menulis, dan menghitung, tidak semuanya diajar dengan kurikulum pendidikan Indonesia. Hal ini seperti yang disaksikan detikcom ketika berkunjung ke salah satu perkebunan Sawit di Sapi 2, Sandakan, Sabah.
"Dalam satu kelas terdapat dua guru yang mengajar. Satu guru dari program CLC sudah tentu mengajar kurikulum Indonesia dengan bahasa Indonesia baku sedangkan satu guru dari program Humana Borneo Aid mengajar anak TKI dengan kurikulum Sekolah Kerajaan Malaysia dengan gaya Melayu Malaysia," ujar salah satu guru CLC, Eka Nur Febriyanti.
Nilai kebangsaan Malaysia sudah melekat erat di benak anak-anak TKI yang lahir dan hidup di Sabah. Sebab para TKI dalam bekerja diperkenankan untuk kawin dan membawa keluarga ke Sabah, tidak seperti TKI di Semenanjung Malaysia.
"Kami agak kesulitan dalam mengubah perilaku anak-anak TKI di Sabah, namun sebisa mungkin kami mengajarkan lagu-lagu wajib dan juga kebudayaan kita," ujar salah satu pengelola CLC di Sandakan lainnya, Sukamto Prasetyo.
Untuk pendidikan non formal, saat ini ada 3.276 anak yang sekolah di sekolah dasar CLC, sementara yang sekolah di LC Humana Borneo Aid ada 7.796 siswa.
(asp/nrl)










































