Warga-Preman Bentrok di Kompleks Depkeu, 4 Luka Parah
Kamis, 26 Agu 2004 16:43 WIB
Jakarta - Sekitar 300-an warga Kompleks Siliwangi dan 150-an pria berkulit gelap yang selama ini dianggap preman, terlibat bentrokan di kawasan Departemen Keuangan (Depkeu), Jl.Lapangan Banteng-Jl.Raya Senen, Jakarta Pusat, Kamis (26/8/2004).Bentrokan terjadi sekitar pukul 12.00 WIB dan berakhir sejam kemudian. Kerusuhan itu dipicu pembangunan menara kembar Sekjen Depkeu di tanah yang jadi rebutan warga dengan Depkeu. Warga mengklaim itu tanahnya, demikian juga Depkeu. Warga menolak digusur dari areal itu.Warga menuturkan, lahan pembangunan menara itu sudah dijaga 150-an preman sejak 18 Agustus 2004 lalu. Preman itu membawa senjata tajam. Sebelum terjadinya bentrokan siang tadi, warga Kompleks Siliwangi yang rata-rata purnawirawan TNI itu hendak mengadakan panjat pinang di dekat areal pembangunan. Rupanya ada sikap warga yang menyinggung penjaga lahan pembangunan Depkeu itu. Mereka pun menyerbu warga.Bentrokan pun pecah. Tiga orang warga luka parah. Seorang pegawai Depkeu juga kena bacok hingga tangan kirinya nyaris putus. "Kami tidak bisa apa-apa meski jumlah kami lebih banyak, sebab mereka membawa senjata tajam, sedangkan kita tangan kosong," kata seorang warga pada detikcom, pukul 16.00 WIB.Bahkan 20-an polisi yang hadir juga tidak berbuat apa-apa. "Polisi hanya diam saja, tidak berusaha membubarkan," sambungnya.Warga mengklaim tanah yang diklaim milik Depkeu itu sudah ditempati sejak tahun 1950. Pada 1984 mereka digusur oleh militer. Peristiwa itu diabadikan dengan tulisan "Tragedi Penggusuran Warga Kompleks Siliwangi oleh Militer". Pada 1996 warga kembali lagi ke kompleks. Kini mereka digusur lagi untuk pembangunan menara Depkeu.Saat ini suasana lokasi bentrokan di Jl.Senen Raya telah sepi. Preman kembali menjaga lokasi pembangunan, sedang warga mundur. Setidaknya 14 rumah warga yang semuanya sederhana itu rusak parah. "Kami nanti akan mengungsi ke rumah saudara. Tidak berani di sini lagi. Masih takut sama preman," kata seorang warga.
(nrl/)











































