Menurut pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro, jika dirunut ke belakang, perpecahan di dalam sebuah partai di Indonesia bukan merupakan hal yang baru. Perpecahan ini merupakan konsekuensi dari manajemen resolusi konflik partai yang buruk.
"Menurut saya memang secara umum partai kita sedang dilanda kesulitan mengelola konflik. Partai jalan, tapi rekrutmen kader belum diperbaiki kualitasnya, dan semakin sulit mencari solusi konflik," ujar Siti saat berbincang dengan detikcom, Selasa (31/7/2012) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lihat PDIP misalnya. Partai itu pecah, dan sekarang kita lihat banyak sekali partai dengan kepala banteng. Golkar juga, ada Hanura dan sekarang NasDem," kata Siti.
Isu perpecahan di internal Golkar sendiri sudah dibantah oleh berbagai elit partai tersebut hingga sang ketua umum sendiri. Siti melihat, jika isu ini benar, partai ini tidak cukup piawai dalam pengelolaannya meskipun sudah puluhan tahun melanglang buana dunia perpolitikan di Indonesia.
"Menarik kalau kabar itu terjadi. Ini menunjukkan partai lama yang berembrio sudah puluhan tahun terbentuk, masih dilanda kesulitan dalam mengelola konflik. SDM oke, tidak cukup kepiawaian partai kalau tidak pecah, kader-kader mendirikan partai baru," papar Siti.
(dhu/fdn)











































