Panglima akan Tarik Aparatnya dari Obyek Vital Dalam Waktu 3 Bulan
Kamis, 26 Agu 2004 14:29 WIB
Jakarta -
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menjanjikan, dalam waktu 3 bulan ini pihaknya akan menarik pasukan yang mengamankan obyel vital baik di daerah konflik dan maupun daerah yang tidak rawan lagi. Langkah itu dilakukan pasca insiden penembakan di Aceh akibat seorang tentara yang depresi di Aceh. Nantinya aparat TNI akan digantikan oleh aparat kepolisian.Demikian diungkapkan Endriartono Sutarto usai melakukan rapat kerja dengan Komisi I DPR di gedung DPR/MMR jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (26/8/2004).Menurut Tarto, penugasan aparat TNI frekuensi sangat tinggi sehingga mengakibatkan jumlahnya cukup besar untuk mengamankan di daerah konflik seperti Papua, Aceh dan Poso. "Dan akibatnya, rotasi untuk tugas cukup lama sedangkan di home basenya hanya sebentar," tandas Tarto.Padahal kata Tarto, menurut aturan maksimal prajurit ditugaskan di suatu daerah maksimal 8 bulan. "Bahkan kalau mengacu aturan dari PBB kurang dari 8 bulan. Dan kita terpaksa menugaskan mereka lebih lama, ini mempengaruhi mental mereka," ungkapnya."Kalo soal kesejahteraan sepertinya tidak mungkin," kata Tarto menjawab pertanyaan wartawan.Untuk pengamanan obyek vital, lanjut Tarto, pihak TNI sebelumnya memang ditugaskan tapi sekarang sudah ada keppres yang menyatakan memberi waktu 3 bulan kepada obyek vital itu untuk menyiapkan diri mengamankan lokasinya. "Kalau memang sudah siap satu minggu tentu kami tarik (pasukan TNI-red)," janjinya."Toh pengamanan itu bagian dari perusahaan sendiri," kata Tarto. Walaupun ada ancaman yang meningkat pihak obyek vital bisa memminta bantuan dari kepolisian. Namun, kalau polisi tidak mampu menanganinya, mereka bisa minta bantuan TNI."Jadi tidak serta merta itu urusan TNI. Dan jumlah TNI ini cukup banyak," kata Tarto tanpa mau merinci maksud pernyataan tersebut.
(mar/)










































