Hal itu disampaikan pakar Ilmu Syariah dan staf pengajar pada Islamic University of Europe, Prof. Dr. Sofjan Siregar, MA kepada detikcom, Senin (30/7/2012).
Menurut Sofjan, beberapa elite parpol mengisyaratkan akan mendukung Foke sesuai dengan keinginan 'akar rumput'. Padahal pada hakekatnya itu hanyalah keinginan 'akar fulus' elite parpol tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi menurut Sofjan, pilkada adalah pemilihan langsung oleh rakyat, bukan oleh elite parpol, sehingga pendidikan politik berkarakter dagang kambing dan pembodohan seperti itu tidak akan berpengaruh secara signifikan.
"Dengan demikian, elite parpol khususnya parpol Islam, akan mengalami kesulitan menjual dagangan kambing gembalaannya kepada Foke," imbuh Sofjan.
Lanjut Sofjan, sikap opportunistis elite parpol yang semakin terang-terangan dalam putaran kedua pilkada DKI ini juga menarik untuk dicatat.
Pada putaran pertama mereka koar-koar harus ada perubahan, sehingga Foke harus digusur. Namun karena perolehan suaranya ternyata kecil dan tidak bisa mengalahkan Foke, maka mereka banting stir mendukung Foke, jika 'akar fulusnya' besar.
Sofjan menilai, parpol apa pun, baik Islam atau tidak, kalau sudah bicara soal 'akar fulus' sama saja, bahkan partai yang berpretensi Islam lebih rakus lagi.
Meskipun demikian, Sofjan memperkirakan sebagian warga Jakarta akan memilih sesuai dengan kaidah fiqih siyasah syariyah akhoffud dararain, memilih yang lebih kecil risikonya.
"Sebaiknya semua konstituen berbalik memberi pelajaran kepada elite parpolnya dengan cara memilih sesuai hati nurani sebagai manusia bermartabat, bukan sebagai kambing yang sudah digadaikan," pungkas Sofjan.
(es/es)











































