Tapi hidangan pagi itu adalah sarapan terakhirnya di News Cafe. Tepat di depan gerbang mansion mewahnya, tanpa banyak suara, Andrew Phillip Cunanan menghampiri desainer kondang itu dari arah punggungnya dan dengan dingin menembakkan pistol ke kepala bagian belakang Versace. Kontan Gianni Versace tersungkur bersimbah darah.
Desainer pendiri rumah mode Gianni Versace yang kondang dengan gayanya yang aduhai itu tak bisa diselamatkan. “Aku tak bisa percaya hari ini dia tak lagi bersama kita,” kata desainer Valentino Garavani. Beberapa hari sebelumnya, dia masih menikmati pesta bersama Versace di Paris. “Dia banyak tertawa dan sangat menikmati pesta seperti biasanya.” Versace, yang selalu dikelilingi para selebritas dunia, memang biangnya pesta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Andrew punya semua bekal menjadi gigolo kelas atas. Wajahnya menarik, percaya diri, dan sangat pintar bicara. Reputasinya sebagai “tukang gombal” terpupuk sejak sekolah menengah atas. Andrew sebenarnya tergolong anak jenius. Skor inteligensinya (IQ) 147. Namun dia tak pernah menuntaskan kuliahnya di University of California, San Diego.
Entah apa yang terjadi dengan Cunanan, gigolo gay itu berubah menjadi pembunuh sadis. Tiga bulan sebelum menembak Versace, Andrew membunuh seorang temannya, Jeffrey Trail, mantan prajurit Angkatan Laut Amerika Serikat. Beberapa hari kemudian, giliran arsitek David Madson dibantainya.
Dengan mobil curian, Andrew beralih ke Chicago. Di kota itu, Lee Miglin, seorang pengusaha properti yang telah berumur 72 tahun, jadi korbannya. Pada 9 Mei 1997, giliran William Reese, 45 tahun, menjadi korban keempat Andrew Cunanan. Selama dua bulan, Andrew berhasil kabur dari pengejaran Biro Investigasi Federal (FBI). Versace-lah korban kelima dan terakhir Andrew.
Apa motif pembunuhan dan hubungan Andrew dengan lima korbannya ini masih gelap hingga hari ini. Rahasia itu terkubur bersama Versace, Lee Miglin, Reese, Madson, Trail, dan Cunanan.
Delapan hari setelah menembak Gianni Versace, Andrew Cunanan menembakkan pistol di dalam mulutnya sendiri. Tak ada selarik pun pesan, tak ada pula cerita dituliskannya. “Aku tak tahu apakah suatu saat kita bisa mengetahui jawabannya,” kata Kepala Kepolisian Pantai Miami Richard Barreto ketika itu.
Artikel ini telah dipublikasikan di Harian Detik Selasa 24 Juli 2012. Anda juga bisa membaca artikel lainnya:
Joanna Alexandra, Tak Ingin Jatuh ke Lubang yang Sama.
(nrl/nrl)











































