Isu ini kemudian memanas di internal Golkar. Menurut sejumlah sumber sejumlah loyalis JK gerah dan mulai bergerak. Muncul isu gencar mereka yang kebanyakan pengurus DPD II Golkar yang juga loyalis Akbar Tanjung bahkan siap mundur dari posisinya.
Belum juga masalah ini diredam, petinggi DPD I Golkar se-Indonesia berkumpul di Bali beberapa waktu lalu. Rumor beredar mereka semua menuntut bantuan operasional yang sebelumnya dijanjikan akan cair setiap bulannya pasca deklarasi pencapresan Ical pada 1 Juli 2012 lalu.
Isu lebih besar pun muncul. Menyongsong pertemuan Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tanjung dengan Mantan Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla dalam acara buka bersama nanti malam. Benarkah mereka semua sedang mencari solusi panasnya situasi internal Golkar?
"Menurut saya nggak ada gerakan itu. Itu rumor saja," kilah Ketua DPP Golkar Hadjriyanto Y Tohari, saat dikonfirmasi, Senin (30/7/2012).
Meskipun Hadjri tak memungkiri sempat ada perbedaan pandangan sebelum deklarasi pencapresan Ical digelar. Namun Hadjri meyakini saat ini semua masalah tersebut telah tuntas berubah menjadi soliditas mendukung pencapresan Ical.
"Iya, begitulah faktanya. Meski sebelum Rapimnas/Deklarasi ada sedikit nuansa berbeda, tetapi pasca Rapimnas bisa dikatakan bulat," ungkap orang dekat Ical ini.
Internal Golkar memang tengah mewaspadai perpecahan. Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso meminta semua jajaran DPP Golkar tidak mewacanakan pemecatan Jusuf Kalla. Wacana tersebut dianggapnya kontraproduktif.
"Saya sekali lagi sebagai Ketua DPP Golkar yang membidangi masalah politik, legislatif, dan lembaga yudikatif saya mengimbau pimpinan teras partai tidak lagi mewacanakan pemecatan apalagi Pak Jusuf Kalla dan tokoh lain," kata Priyo kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/7/2012).
Menurut Priyo wacana pemecatan JK kontraproduktif. Lebih jauh bahkan bisa menganggu konsolidasi Golkar menuju sukses pileg dan pencapresan Ical.
"Wacana pemecatan itu kontraproduktif dan akan menganggu konsolidasi partai karena membenturkan tokoh senior Pak Aburizal Bakrie, Pak Jusuf Kalla, dan Pak Akbar Tandjung," ungkapnya.
(van/mad)











































