Emir Moeis menyangkal menerima uang dan mendapatkan hiburan di klub kabaret di Paris, Prancis pada 2004 lalu. Dia menegaskan, dirinya hanya sebatas memenuhi undangan kala itu dari Alstom.
"Saya santai saja hadapi, kebetulan bulan Ramadan. Saya satu sen pun tidak diterima. Nanti kita saling buktikan deh di KPK. Saya tidak terima dari Alstom," jelasa Emir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (30/7/2012).
Emir menjelaskan, saat itu dia pergi ke Paris dan diundang di sebuah restoran bernama Lido. Restoran itu paling terkenal di Paris. Emir menepis ada uang US$ 300 ribu yang diterimanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun dia mengakui kalau diundang ke restoran kelas internasional itu atas undangan pihak Alstom. Sedang pihak Mitsubishi mengundangnya saat berada di Jakarta.
"Kalau Mitsubishi di Jakarta itu. Itu dalam rangka mereka memperkenalkan perusahaan mereka sebagai perusahaan bonafid," jelasnya.
Emir menjelaskan, perjalanan dia ke Paris pun bukan khusus memenuhi undangan Alstom tetapi mencari profesornya. Emir mengaku dirinya seorang dosen.
"Itu perjalanan pribadi saya ke Sorbonne sebagai dosen waktu itu," tuturnya.
Soal tender PLTU Tarahan Lampung pun, Emir menegaskan, perusahaan itu mengundang ingin menunjukkan bahwa mereka bonafid.
KPK telah menetapkan Emir sebagai tersangka pada kasus PLTU Tarahan, Lampung. Rumah politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Emir Moeis digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (26/7/2012). Emir diduga menerima sejumlah uang terkait proyek PLTU Tarahan itu.
(van/ndr)











































