Komisi X DPR Kecam Bullying di SMA Don Bosco

Komisi X DPR Kecam Bullying di SMA Don Bosco

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Senin, 30 Jul 2012 08:56 WIB
Komisi X DPR Kecam Bullying di SMA Don Bosco
Jakarta -

Komisi X DPR yang membidangi pendidikan mengecam keras Masa Orientasi Siswa (MOS) yang menjadi sarana bullying bagi siswa baru. Polisi dan Dinas Pendidikan harus bertindak tegas meyikapi bullying seperti yang terjadi di SMA Don Bosco.

"Pelaku tindak kekerasan saat Masa Orientasi Siswa (MOS) di Sekolah SMA Seruni Don Bosco, Pondok Indah, Jakarta Selatan harus diproses secara hukum. Penegakan hukum dalam kasus ini diharapkan dapat memberi efek jera kepada siapa saja yang melakukan aksi kekerasan termasuk bila ada upaya pembiaran," kata anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PPP Reni Marlinawati dalam siaran pers, Senin (30/7/2012).

Komisi X mengapresiasi langkah siswa dan orang tua siswa yang melaporkan aksi kekerasan baik fisik maupun psikis ke aparat penegak hukum. Langkah ini harus ditiru oleh siapa saja yanng mengalami tindak kekerasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kepada aparat penegak hukum, kami meminta agar mengusut secara tuntas dan transparan atas dugaan kekerasan termasuk dugaan pembiaraan atas aksi kekerasan yang dialami siswa tersebut,"katanya.

Dia juga menyayangkan aksi kekerasan terhadap siswa itu justru terjadi di Ibukota Jakarta. Peran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta semestinya harus lebih ditingkatkan dalam melakukan kontrol dan pembinaan.

"Dinas Pendidikan dan Kebudayaan harus memberikan punishment kepada pihak sekolah yang masih ditemukan aksi kekerasan, tak terkecuali di SMA Seruni Don Bosco, Pondok Indah, Jakarta Selatan,"katanya.

Masa Orientasi Siswa (MOS) seharusnya dilakukan tanpa melalui pendekatan kekerasan atau tekanan fisik (bullying) maupun psikis oleh pihak sekolah maupun senior kepada siswa baru.

"MOS justru harus menjadi ajang peletakan pondasi dasar bagi siswa untuk menapaki jenjang pendidikan berikutnya. Penguatan karakter serta mendorong sikap mandiri dan bertanggungjawab siswa tidak bisa dengan pendekatan kekerasan,"pungkasnya.

(van/ega)


Berita Terkait