Ini Tips dari BNPB Untuk Menghindari Amuk Si Jago Merah

Ini Tips dari BNPB Untuk Menghindari Amuk Si Jago Merah

Mega Putra Ratya - detikNews
Senin, 30 Jul 2012 07:36 WIB
Ini Tips dari BNPB Untuk Menghindari Amuk Si Jago Merah
ilustrasi
Jakarta - Si Jago Merah tak pernah pandang bulu saat mengamuk. Tak sedikit korban jiwa dan banyaknya kerugian materil yang ditimbulkan. Ini tips dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mengantisipasi amuk Si Jago Merah.

"Pertama, hindari penggunaan peralatan listrik yang melebihi beban kapasitas meter listrik," saran Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho kepada detikcom, Senin (30/7/2012).

Kedua, hindari pemasangan instalasi listrik dengan terlalu banyak sambungan di rumah dengan isolasi dimana apabila terkena panas listrik mudah memuai dan mengelupas. Ketiga, pada saat listrik padam, jangan letakkan lilin dekat dengan bahan yang mudah terbakar seperti kasur, kayu, kain dan lain-lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Keempat, hindari peralatan dan bahan yang mudah terbakar dari jangkauan anak-anak. Kelima, periksa secara berkala instalasi listrik di rumah. Apabila ada kabel rapuh, sambungan atau stop kontak yang aus atau tidak rapat segera ganti dengan yang baru," paparnya.

Keenam, periksa kondisi tungku masak baik kompor minyak maupun gas, selang, tabung dan lain-lain. Kemudian segera ganti jika ada yang bocor.
Β 
"Ketujuh, tempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar pada tempat khusus, bercampur dengan dengan bahan yang dapat menimbulkan reaksi kebakaran. Kedelapan, siapkan alat pemadam kebakaran, air, pasir, karung goni yang dibasahi di lingkungan sekitar," tuturnya.

Menurut Sutopo, kebakaran merupakan bencana yang lebih banyak disebabkan kelalaian manusia. Data pada 2002-2011, menunjukkan bahwa kebakaran perumahan/permukiman di Indonesia sekitar 63% disebabkan oleh hubungan pendek arus lintrik, 10% oleh api dari lampu minyak dan lilin, 5% dari rokok, 1% dari kompor, dan lainnya.

"Sebagian besar kebakaran terjadi di permukiman padat dengan instalasi jaringan listrik yang tidak memenuhi standar keamanan. Puncak kejadian kebakaran permukiman terjadi selama bulan Juli-Agustus-September, dimana pada Agustus yang tertinggi karena pengaruh cuaca yang kering. Tren kebakaran permukiman meningkat terkait dengan makin padatnya penduduk, cuaca makin kering, kemiskinan, terbatasnya hidran, penggunaan lahan dan sebagainya," kata Sutopo.

(ega/spt)


Berita Terkait