Β
Seperti diketahui Indonesia memiliki lembaga riset penilitian, LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), dan universitas-universitas yang fokus pada pertanian. Anggota DPR Komisi IV dari Fraksi PAN, Viva Yoga mengakui sulitnya lembaga penelitian di Indonesia untuk berkembang. Salah satu penyebabnya adalah dana yang sangat minim untuk menunjang riset-riset.
"Harus dimaksimalkan perannya. Lalu juga kemampuan mensinergikan hasil bibit unggul pertanian dengan melibatkan investor swasta dan pelaku usaha lainnya karena selama ini masih kurang," ujar Viva Yoga saat berbincang dengan detikcom, Jumat (27/7/2012).
Viva Yoga membandingkan kehidupan lembaga riset di luar negeri yang begitu dihargai dibandingkan dengan kondisi yang ada di Indonesia. Sebagai contoh, porsi dana APBN untuk penelitian pada tahun 2012 hanya berjumlah Rp 17,6 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, kurangnya hasil riset yang dipergunakan oleh pihak industri pertanian membuat semangat mengembangkan pertanian menjadi kurang. Seharusnya, pemerintah menjalin hubungan erat dengan pelaku industri pertanian, lembaga riset, dan pelaku dunia usaha lainnya.
"Katanya kita punya produk unggulan di semua wilayah tapi nyatanya 80 persen hasil pertanian kita masih impor, termasuk kedelai," jelasnya.
Viva Yoga mengkritik rencana pemerintah dalam mengimpor benih kedelai, karena menurutnya tekstur alam Indonesia berbeda dengan tekstur alam luar negeri, sehingga tidak benar-benar mendapat 100 persen benih yang berkualitas. "Ini sangat tidak meningkatkan produktivitas," sambung Viva Yoga.
Intinya, tambah Viva Yoga, persoalan kedelai dan umumnya masalah pertanian di Indonesia menjadi masalah serius buat pemerintah. Padahal, lanjut dia, Indonesia tidak kekurangan tenaga ahli dan cerdas untuk menyelesaikan masalah swasembada pertanian di Indonesia.
"Tugas pemerintah untuk mensinergikan antara hasil penelitian dengan dunia usaha dan melakukan proses industrialisasi pertanian," tutupnya.
(tfq/)











































