Sebelum Dirikan Koperasi Langit Biru, Ustad Jaya Komara Bekerja di MLM

Sebelum Dirikan Koperasi Langit Biru, Ustad Jaya Komara Bekerja di MLM

Andri Haryanto - detikNews
Kamis, 26 Jul 2012 12:53 WIB
Sebelum Dirikan Koperasi Langit Biru, Ustad Jaya Komara Bekerja di MLM
Jakarta - Ustad Jaya Komara piawai menarik minat masyarakat untuk bergabung menjadi nasabah Koperasi Langit Biru (KLB). Ia pernah mereguk asam garam bekerja di perusahaan MLM sebelum mendirikan koperasi yang perputaran uangnya ditaksir mencapai Rp 6 triliun.

"Kalau dilihat, Jaya punya latar belakang di perusahaan MLM (multi level marketing)," kata Karo Penmas Polri, Kombes Boy Rafli Amar, di Jakarta, Kamis (26/7/2012).

Boy juga menyebut Ustadz Jaya, sapaan Jaya Komara, pernah bekerja di berbagai profesi. Namun, Boy tidak merinci profesi-profesi yang pernah digeluti sang ustadz tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Termasuk bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta Utara, kemudian keluar dan mendirikan sendiri Koperasi Langit Biru," jelas Boy.

Diberitakan sebelumnya, polisi menciduk Jaya Komara setelah buron selama lima bulan di sebuah hotel melati di Purwakarta, Jawa Barat, Selasa (24/7) sekitar pukul 17.00 WIB.

Polisi juga menciduk seorang perempuan yang diduga istri muda sang ustadz. Kini status perempuan berinisial IT tersebut ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Bareskrim Polri.

Diketahui ratusan ribu investor KLB sempat ricuh dengan manajemen soal pencairan bonus pada 2 Juni 2012 lalu. Namun, hingga hari H-nya, manajemen koperasi tidak juga mencairkan bonus yang dijanjikan terhadap para investor.

Jaya Komara selaku pimpinan di KLB, saat itu seolah hilang ditelan bumi. Alhasil, para investor kemudian menjarah produk KLB yang disimpan di gudang. Polisi telah menetapkan Jaya Komara sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

KLB setidaknya telah mengumpulkan 125 ribu investor sejak tahun 2005. Sejak saat itu, investornya terus bertambah hingga mencapai 125 ribu. Masing-masing investor menyetorkan sejumlah uang sebagai investasi, nah tiap bulan dijanjikan keuntungan besar. Diduga kerugian nasabah mencapai Rp 6 triliun.

(ahy/aan)


Berita Terkait