Yang pasrah salah satunya adalah H Agus (45), pemilik pabrik tahu di Jalan Nusa Indah, Ciracas, Jakarta Timur, Kamis (26/7/2012).
"Ya kan itu persaudaraan. Saya terima, nggak marah, risiko saya sendiri," jelas Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebaliknya, protes dilontarkan produsen tahu lainnya yang terkena sweeping, yakni ibu bernama Epi (30).
"Orang pembeli sudah mau harga tahu naik, ngapain libur lama-lama? Semuanya dirusak, ngomong kek baik-baik, kalau mau disita ya disita, jangan ngerusak acak-acak semuanya," cetus Epi.
Lagipula Epi berproduksi hanya untuk keperluan katering, bukan buat dijual ke pasar.
"Jangan dibuang, mendingan tahunya dikasih sama orang miskin, masih banyak yang kelaparan. Ini saya buka buat ketering doang, nggak dijual ke pasar. Ini juga untuk menghidupi karyawan saya semua. Kalau nggak, mau makan dari mana? Ini udah mau Lebaran," omelnya.
(nwk/nrl)











































