Gedung di proyek pembangunan olahraga Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ambruk pada Januari 2012. Bagaimana hasil analisa hidrologi dan geologi proyek tersebut sebelum mulai dibangun?
Pemerintah sebenarnya sudah melakukan analisa dari sisi hidrologi dan geologi. Perusahaan yang digandeng untuk melakukan survei itu adalah CV Lestari Sejahtera yang beralamat di Jakarta Pusat.
Dari dokumen yang didapat detikcom, Rabu (25/7/2012), sejumlah kesimpulan dan rekomendasi sudah dikeluarkan untuk pembangunan proyek itu. Salah satu point penting yang menjadi penekanan survei itu adalah masalah air serta kekuatan konstruksi tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, keadaan kawasan yang relatif curam di daerah proyek perlu diubah supaya air hujan dan mengalir. Salah satu cara yang disarankan dengan menggunakan sistem sumur resapan.
"Dalam perencanaan saluran drainase diusahakan hanya berupa galian tanah terbuka dan sedikit yang dilapis beton atau batu kali," tulis dokumen ini lagi.
Sedangkan dari sudut geologi, lapisan tanah paling atas (kisaran 0-1 m) merupakan lapisan tanah lunak. Lapisan selanjutnya baru berisi tanah keras yang berisi batuan dan kerikil.
"Untuk pondasi dangkal disarankan memakai bentuk persegi yang ditempatkan pada kondisi tertentu," jelas dokumen ini.
Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Surono menilai longsor yang terjadi di proyek hambalang itu akibat Clayshale di hambalang mengalami degradasi. Selain itu, ternyata proyek Hambalang tidak menggunakan rekayasa teknologi.
"Dan yang tidak kalah pentingnya diperlukan juga untuk memproteksi bangunan yang ada terhadap ancaman longsor dan dilakukan pembuatan saluran drainase dan subdrain atau horizontal drain," ujar Surono (10/7).
Perwakilan dari perencana proyek ini, Direktur PT Yodya Karya, Yudi Wahyono, juga mengakui ada masalah dengan pembangunan gedung Hambalang. Yudi mengatakan, setelah dilakukan penyelidikan baru diketahui daerah tersebut adalah kawasan yang memiliki tanah lempung.
Beberapa waktu lalu, Sekretaris Kemenpora, Yuli Mumpuni, mengaku sudah menerjunkan para ahli untuk melakukan evaluasi terkait amblasnya proyek tersebut. Proyek ini pun terpaksa dihentikan lebih dulu.
"Sampai sekarang masih evaluasi dan dilakukan pengerasan untuk penguatan konstruksi. Tim perencana sudah memanggil konsultan dari Jepang yang ahli gempa, ada juga ahli tanah ekspansif dan lainnya. Nantinya akan dilakukan scanning lagi. Kita hentikan sementara, dilakukan intervensi dengan penelitian," papar Yuli Mumpuni kepada detikcom, Senin (28/5) lalu.
Yuli menjelaskan menurut para ahli, tanah tempat dibangunnya proyek tersebut merupakan tanah ekspansif. "Di kedalaman tertentu ada pergerakan tanah. Waktu bulan Maret terasa sekali ketika hujan lebat, di 3 titik tanahnya bergerak. Konstruksinya masih tiang pancang dan beton, memang akibatnya ada yang pecah dan ada yang ambles, turun ke bawah," terang Yuli.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng juga sudah meminta penelitian tidak hanya dilakukan di Proyek Hambalang yang ambles. Penelitian dilakukan di semua titik.
"Penelitian untuk dalami titik-titik yang ambles itu. Menteri minta dilakukan di titik ambles tapi juga dalami titik lainnya," jelas Deputi Harmonisasi Kemenpora Soal Proyek Hambalang, Lalu Wildan, di Kantor Kemenpora, Rabu (30/5) lalu.
(mok/gst)











































