Tahu dan tempe masih eksis di pasar tradisional di Semarang, Jateng. Hanya saja, ukuran tempe makin menciut dan harga kian melambung.
Salah satu perwakilan pedagang di pasar induk Johar Semarang, Sukarti mengatakan kenaikan harga menjadi alternatif menghindari kerugian yang mengancam penjual makanan hasil olahan kacang kedelai tersebut. Untuk tahu, Sukarti mengikuti kenaikan harga sesuai dengan harga yang diberikan produsen tahu.
"Jadi saya dan teman-teman di sini (pasar Johar) menaikkan harga tahu rata-rata satu tong Rp 25 ribu. Kenaikan harga kali ini luar biasa," kata Sukarti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga masih Rp 3.000 per kemasan, tapi ukurannya diperkecil," ujar Sukarti sambil memperlihatkan tempe dagangannya.
Dengan adanya kenaikan harga kedelai yang membuat naiknya pula penjualan tahu dan pengurangan ukuran tempe, para pedagang berkeluh kesah dan berharap agar pemerintah segera mengambil tindakan yang pro rakyat.
"Pemerintah kalau bisa usahakan harga kedelai turun. Saya sudah sempat hampir rugi gara-gara kenaikan harga yang terjadi berkali-kali," tutur Sukarti.
Tidak hanya pedagang, keluhan juga diutarakan para pembeli salah satunya Endang. Saat membeli di kios milik Sukarti, ia mengeluhkan harga yang terus melonjak dan merasa kasihan terhadap para pedagang maupun pembeli tahu tempe.
"Saya harap pemerintah lebih perhatian. Kasihan kan pedagang dan pembelinya. Kita merasa berat," katanya.
Salah satu ketua kelompok pengrajin tahu dan tempe di Semarang, Warsino mengatakan pihaknya tidak mogok berproduksi karena menunggu respon pemerintah terhadap kenaikan harga kedelai yang luar biasa. Ia juga khawatir dengan mata pencaharian para karyawannya.
"Kami belum berencana untuk berdemo. Menunggu respon pemerintah," kata Warsino kemarin, Selasa (24/7).
"Lagipula jika kami mogok produksi itu bukan demo, tapi terpaksa mogok produksi karena keadaan," imbuhnya.
(alg/trw)










































