"Istilah bajak-membajak ini memang terkenal dalam dunia profesional yang tidak terlalu menempatkan loyalitas. Partaikan nggak bisa seperti itu," kata Ketua DPP PAN Bidang Komunikasi Politik, Bima Arya, pada detikcom (21/7/2012).
Menurut Bima, partai bukanlah perusahaan yang biasa mencari 'head hunter' dengan cara membajak. "Kalau terbujuk, memangnya partai ini perusahaan? Dalam partai harus dibangun loyalitas. Kalau saya, sekali matahari selamanya matahari," ungkap Bima.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara internal, bagi yang tergoda tentu ada persoalan yang dihadapi, secara eksternal tidak etislah membajak seperti itu. Partai harusnya melakukan rekrutmen yang difokuskan pada segmen baru dan calon kader yang potensial," jelas Bima.
Motif uang turut menjadi salah satu alasan banyaknya politikus 'kutu loncat'. Bima menyayangkan politikus yang berpindah-pindah bukan karena kesamaan ideologi atau idealisme.
"Bisa jadi godaan seperti itu (motif uang). Kalau saya merasa PAN ini ideologinya cocok dengan saya. Jadi, Saya kalau pindah partai kayak pindah agama," papar Bima.
Akibat fenomena politikus 'kutu loncat' tersebut, muncul ide perlunya peraturan atau regulasi dalam mengendalikan hal tersebut. Namun, Bima Arya menilai hal tersebut tidak diperlukan karena berkaitan dengan hak politik individu.
"Nggak perlu, ini hak politik masing-masing, nggak boleh dihalangi karena publik nanti bisa menilai. Semestinya kan partai bisa melakukan kaderisasi dan mencetak kader yang loyal," tutup Bima.
(vid/ega)










































