"Jadi ada tiga hal yang jadi kemungkinan. Pertama, ia meminta seluruh jajaran pemerintahan untuk konsentrasi. Harga barang naik, terutama memasuki bulan ramadan. Belum persoalan jalan, angkutan mudik dan sebagainya. Jangan sampai para menteri itu sibuk dan pecah perhatiannya," papar Pengamat Komunikasi Politik Universitas Indonesia, Effendi Ghozali saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (21/7/2012).
Kemungkinan yang kedua, Effendi melihat jika pernyataan SBY ini terlalu terbuka. Sehingga sulit untuk melihat siapa subyek dari teguran sang Presiden ini.
"Kedua, pernyataan ini terbuka lebar, tidak terlalu diketahui untuk ketua umum Partai yang menjabat atau semua menteri yang berasal dari partai politik. Ini mengakibatkan para menteri akhirnya menolak dan menghindar, oh bukan kami yang dimaksud," ujar Effendi.
Kemungkinan terakhir, pernyataan SBY adalah buntut dari sindiran-sindiran yang sudah pernah dilakukan sebelumnya. Effendi mencotohkannya dengan kasus korupsi yang melilit pemerintahan.
"Presiden mau menunjukkan jika dia adalah Presiden yang baik, bersih dan berani untuk usut tuntas korupsi. Ia ingin melakukan upaya pembersihan di pemerintahan. Ia juga ingin menunjukkan bukan cuma partainya yang terlibat korupsi, jadi jangan cuma lirik partai kami," papar Effendi.
(dhu/ahy)











































