"Kami hanya mengembangkan desain dari alat yang sudah ada sebelumnya," kata Nisa saat berbincang dengan detikcom, Jumat (20/7/2012) malam.
Menurut Nisa, dia dan empat temannya tersebut mengembangkan alat perapi baju dalam 11 detik dari tayangan inovasi yang mereka temukan di Youtube tahun 2006 lalu, yang tak lain hasil kreasi warga asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lima mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) ini, Nisa Salsabila Shafarudin, Nurida Khasanah, Dimas Reza Rahmana, Fitrah Pawalangi dan Ngurah Nata Baskara, lantas terpikir untuk membuat alat tersebut efisien dalam penggunan dan bentuk. Lalu diadaptasilah inovasi tersebut sehingga dapat dilipat sebesar ukuran buku pada umumnya.
"Selain itu bahan yang digunakan dari karton duplex agar bisa disetrika. Kalau inovasi sebelumnya kan dari plastik, jadi sulit untuk disetrika," terang Nisa.
Desain hasil karya yang diberi nama Terapsi (Cepat-Rapi-Berseni) ituselanjutnya akan dipatenkan lima mahasiswa tersebut.
"Kami tidak patenkan teknologinya, tapi desain yang sudah dimodivikasi dari sebelumnya," terang Nisa.
Sebelumnya, Dimas Reza Rahmana mahasiswa yang juga bergabung dalam pengembangan inovasi tersebut mengatakan, saat ini Terapsi dijual dengan harga Rp 25 ribu/buah. Untuk produksinya, mereka menggandeng salah satu panti asuhan di Yogyakarta.
"Yang mengerjakan 20 anak panti. Harapan kita, memberi mereka lapangan pekerjaan dan mereka pun bisa mengisi waktu luang di panti," kata Dimas.
Menurut dia, pengerjaan pesanan sesuai dengan permintaan pembeli. Kemasan juga disesuaikan dengan warna dan corak yang diinginkan pembeli.
(ahy/dhu)











































