"Pernyataan Pak SBY itu harus diartikan sebagai teguran sekaligus peringatan kepada menterinya. Jujur saja, para menteri dari parpol itu sibuk melakukan pencitraan, acara-acara temu kader, jalan sehat, pasang iklan kinerja yang agak narsis, semua itu tidak lebih dari pencitraan diri, cenderung mengedepankan parpol dan dirinya dibanding karya yang mengatasnamakan pemerintah,"nilai Wakil Sekretaris FPD DPR, Achsanul Qosasi, kepada detikcom, Jumat (20/7/2012).
Sehingga, menurut dia, Presiden SBY seolah sendirian mengurus negeri ini. Sementara pemilu masih dua tahun lagi.
"Departemen narsis itu sebaiknya tahu diri. Bagaimanapun label pejabat negara disandangnya, protokoler tetap melekat padanya. Itu termasuk kategori korupsi jabatan," ujar Achsanul.
Menurut Achsanul, utamanya ketua umum parpol sebaiknya tak berada di kabinet. Karena sebagian juga telah terang-terangan disebut-sebut partainya sebagai capres.
"Kita harus terus mendorong, agar Ketua Umum Partai tidak boleh lagi merangkap sebagai pejabat negara, tetapi masih punya hak untuk maju sebagai presiden. Biarlah mereka mengabdi membesarkan partai dan mencetak negarawan-negarawan besar untuk negeri ini,"pungkasnya.
(van/)











































