Kondisi hampir mirip juga terjadi pada KBRI Washington di Amerika Serikat (AS). Tapi bedanya, KBRI tak bisa melakukan perbaikan dengan memindahkan gedung. Bukan apa-apa, AS sangat menjaga situs sejarahnya, perbaikan dan perombakan pun dengan izin ketat. Jadi pemindahan lokasi hampir mustahil.
Menurut situs KBRI Washington, gedung KBRI yang terletak di 2020 Massachusetts Avenue itu juga termasuk bersejarah dan terdaftar sebagai National Register of Historic Places. Gedung kuno itu dibangun pada awal abad 20, tepatnya tahun 1901 oleh pemilik tambang emas, Thomas F Walsh.
Walsh adalah imigran dari Irlandia yang mengadu nasib ke AS pada usia 19 tahun. Dia mencoba peruntungannya dalam industri pertambangan emas, dan berhasil memiliki dan mengembangkan tambang emas Camp Bird di Ouray, Colorado dan menjadi salah satu tambang terkaya di dunia.
Walsh membangun mansion ini setelah menikah dengan Carrie Bell Reed. Dengan membayar arsitek Henry Anderson, Walsh-Reed menghabiskan biaya US$ 853 ribu dan pindah ke situ tahun 1903. Saat itu sosialita AS dipengaruhi bentuk gedung รcole des Beaux Arts do Paris.
Gaya mansion ini antik, dengan 3 lantai dengan 50 kamar, beratap kaca patri, memiliki tangga utama bermezanin berbentuk Y, ada 2 patung marmer 2 orang Romawi yang berdansa. Koran Evening Star pada 8 Desember 1903 menjelaskan bahwa meja makan di mansion ini terdapat ornamen anggrek kuning yang ternyata berasal dari bongkahan emas di tambang Camp Bird.
Mansion ini bersejarah lantaran menjadi tempat pertemuan sosialita baik bersifat politik maupun sosial. Putri Presiden AS Theodore Roosevelt, Alice Roosevelt pernah diundang ke sini untuk menghadiri pesta dansa. Saat Raja Albert dan Ratu Elizabeth I berkunjung ke Washington, Wakil Presiden AS Thomas R Marshal pernah menjamu tamu negara ini di mansion Walsh.
Walsh kemudian mewariskan mansion ini kepada putrinya Evalyn Walsh, yang juga istri dari pemilik koran Edward B McLean. Evalyn diketahui merupakan sosialita terkenal di Washington DC, diketahui pula sebagai pemilik terakhir berlian 44,5 karat berwarna biru yang terkenal dengan 'Diamond Hope'. Berlian itu kini tersimpan di Smithsonian Museum of Natural History.
Nah, Evalyn mengizinkan gedung ini digunakan oleh Pemerintah AS. Kemudian, Dubes RI untuk AS yang pertama Ali Sastroamidjojo membeli mansion ini pada 19 Desember 1951. Saat itu, AS sedang mengalami resesi, tak heran bila Ali Sastroamidjojo membelinya seharga US$ 335 ribu, atau kurang dari separuh biaya pembangunannya pada 1903. Pemerintah RI kemudian mengeluarkan US$ 75 ribu untuk merenovasinya.
Gedung bangunan itu sampai sekarang masih bertahan baik bentuk, arsitektur dan interiornya. Pemerintah RI hanya menambahkan gedung baru di samping gedung lama itu pada 1982, saat Dubes RI untuk AS dijabat Ashari Danudirdjo. KBRi Washington hingga kini juga mempersilakan siapa saja melakukan tur ke Walsh Mansion ini, dengan perjanjian, tentunya.
"Kita punya KBRI di sana itu kita pernah menambah struktur. Dari KBRI bikin wing baru sejak 1980-an dan gedung yang ada sekarang gedung heritage di Wasington DC," jelas Dubes RI untuk AS, Dino Patti Djalal ketika dikonfirmasi detikcom usai acara peluncuran buku 'Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang' di Hotel Grand Hyatt, Bundaran HI, Jakarta, Rabu (19/7/2012) malam
Tapi apakah gedung KBRI itu bisa dipindahkan? "Tergantung status gedungnya apa. Tapi kalau gedung KBRI kita di sana tidak bisa karena mengandung histori," jawab Dino.
Namun ketika Dino ditanya mengenai gedung eks kantor Syahrir di kompleks Kedubes AS di Jakarta yang merupakan gedung bersejarah tetapi justru bisa dipindahkan, Dino menjawab, "Itu saya nggak tahu. Isunya tanyakan ke Kemenlu saja".
(nwk/ndr)











































