ADVERTISEMENT

Life Stories

Shamsi Ali, Dai RI di AS yang Aktif Bangun Toleransi Antarumat

- detikNews
Kamis, 19 Jul 2012 15:55 WIB
Foto: FB Shamsi Ali
Jakarta - "Pak Presiden, saya ingin menyampaikan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan kepercayaan dan komunitas saya. Jadi maukah Anda memberikan pernyataan pada publik bahwa serangan teroris itu tidak ada kaitannya dengan Islam/Muslim?". Itulah ucapan Shamsi Ali kepada Presiden AS saat itu, George Bush.

Kata-kata itu mengalir dari bibir Shamsi Ali, dai asal Indonesia, tidak lama setelah terjadi serangan teroris ke menara kembar World Trade Center (WTC) di AS. Shamsi mengucapkan kalimat itu lantaran Islam disorot tajam. Padahal Shamsi yakin agama mana pun, termasuk Islam, tidak mengajarkan teror.

Kisah Shamsi ini merupakan salah satu yang dimuat di buku 'Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang'.

Shamsi lahir di tengah keluarga petani di Papanjaya, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Semasa kecil di kampungnya, Shamsi dikenal sebagai anak yang suka berkelahi dan malas belajar. Namun saat ujian akhir sekolah, Shamsi termasuk siswa yang mendapat nilai cukup tinggi.

Setamat SD, Shamsi melanjutkan pendidikan di pesantren. Beberapa tahun setelah pendidikan dasarnya selesai, Shamsi ingin sekali kuliah. Sayang keadaan finansial keluarga tidak mendukung. Akhirnya dia tetap tinggal di pesantren untuk mengajar secara sukarela. 5 Bulan mengajar, dia ditawari pimpinan pondok pesantren untuk belajar ke luar negeri, Pakistan.

Shamsi nantinya akan belajar di International Islamic University. Sembari menunggu diterima di universitas itu, dia bergabung dengan Jamaah Tabligh untuk melakukan dakwah berkeliling Pakistan. Selama perjalanan itu, dia tidur dari masjid ke masjid dan makan gratis bersama rombongan.

Saat kuliah sudah dimulai, beasiswa yang diterimanya hanya cukup untuk ongkos makan per bulan. Sedangkan untuk penginapan, dia mendapat kamar di hostel yang disediakan mahasiswa universitas.

Untungnya Shamsi kemudian mendapat tawaran jadi muazzin (tukang azan) di Masjid Faisal yang merupakan masjid terbesar di Islamabad. Dari situlah Shamsi mendapat penghasilan yang bisa digunakan untuk berhaji dan menikah. Tak lama setelah menikah, dia mendapat tawaran menjadi pengajar bagi anak-anak pengungsi Afghanistan di Pakistan. S1 dan S2 Shamsi selesai di kota itu hingga akhirnya ada tawaran mengajar di Jeddah, Arab Saudi, yang langsung disetujuinya.

Saat memberikan ceramah manasik haji di KJRI Jeddah, Shamsi bertemu dengan Wakil Tetap RI untuk PBB New York, Nugroho Wisnumurti. Nugroho mengundang Shamsi untuk memimpin masjid Indonesia yang sekarang bernama Masjid Al Hikmah di New York, sembari menjadi staf Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI).

Di AS, Shamsi bertemu dengan orang yang lebih beragam. Dia pun bergaul dengan orang-orang yang memiliki latar belakang keyakinan yang berbeda-beda. Meski boleh jadi ada yang berbeda secara fundamental, namun Shamsi meyakini ada sisi positif dari semua orang sehingga bisa terbangun kerja sama antar orang yang beragam itu.

Toleransi antar umat beragama dikembangkan oleh Shamsi. Hal itu diwujudkan dengan melakukan kunjungan ke gereja di dekat Masjid Indonesia. Bahkan Shamsi akhirnya diminta menjadi anggota tim rekonsiliasi saat terjadi bentrokan antara komunitas Yahudi dan Arab di Brooklyn.

Shamsi pun lebih aktif lagi terlibat dalam kegiatan kerja sama antarumat beragama guna membangun rasa saling pengertian dan persahabatan sehingga memberi sumbangan perdamaian di masa depan. Hal itu terlihat saat dia menjalin hubungan dengan komunitas Yahudi di AS.

"Saat ini di saat-saat komunitas Muslim menghadapi tantangan yang berat karena Islamophobia, betapa banyak pemimpin Yahudi yang bersedia untuk menjadi jubir bagi komunitas Muslim menghadapi sikap anti Muslim di AS tersebut," papar Shamsi.

Hubungan-hubungan antarumat beragama yang dijalin Shamsi dilakukan lebih karena tanpa saling memahami, menghormati, dan tanpa kepercayaan maka sulit dicapai perdamaian. Bukankah tidak kenal maka tidak sayang?

"Interfaith tidak lain adalah upaya membangun komunikasi untuk saling memahami sehingga terjadi kerja sama (partnership) dalam kepentingan yang disepakati dahn saling menghormati dalam hal-hal yang tidak disepakati," tutur Shamsi.

(vit/nrl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT