"Beberapa pelaku yang telah ditangkap dan ratusan kilogram sampai ton barang bukti ganja mengarah ke Sumut, Lampung, dan pasar paling besar di Jakarta," kata Wakil Kapolda Aceh Brigjen Pol Setyanto, di lokasi temuan ladang ganja, Desa Meureu, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Rabu (18/7/2012).
Bagaimana tidak, tanaman bernama latin Canabis Sativa ini bila dikeringkan capaian harga per kilogram-nya mencapai Rp 1.800 ribu.
Itu untuk harga pasaran dari peladang ke tengkulak di Aceh. Namun bila tengkulak menjualnya ke bandar lain di Jakarta, kata Setyanto, harga bisa mencapai belasan juta.
Dia mengatakan, modus peladang Ganja saat ini sudah terbilang berani. Bila awalnya ganja ditanam sembunyi-sembunyi di daerah pegunungan, modus pelaku sekarang adalah dengan menanam ganja di tengah perkampungan warga.
Pantauan detikcom dari beberapa ladang yang ditemukan di Aceh, ladang tersebut tidak begitu jauh dari pemukiman warga. Hanya dengan melewati pematang sawah dan ditutupi pepohonan besar, ladang ganja sudah mulai terhampar. Namun, pemilihan lokasi untuk menuju ke lokasi adalah dengan menuruni tebing curam.
Bukan hanya itu, para peladang dengan apik menata pohon-pohon ganja dan melindunginya dengan pagar kawat serta memasang orang-orangan sawah untuk menghindari serangan burung.
Di lokasi yang ditemui di Indrapuri, ladang berada di tengah aliran kali kecil, sehingga memudahkan peladang untuk menyiram ganja di ladang. Buktinya, selang berdiameter lima centimeter melintang di tengah ladang ganja di daerah yanh terkenal rawan tersebut.
Setyanto mengatakan, para peladang biasanya memanfaatkan warga sekitar untuk menjaga dan mengurus ladangnya.
"Karena ketidaktahuan dan terdesak ekonomi mereka menerima saja," katanya.
(ahy/ega)











































