JK memang pernah menolak masuk ormas Nasdem. Namun saat dorongan majunya dia baik sebagai capres maupun cawapres untuk Pemilu 2014 menguat, agaknya dia mulai bimbang.
Secara tegas, JK mengatakan siap dipecat dari Golkar jika kelak maju Pilpres 2014. Kalangan Golkar, seperti disampaikan Ketua DPP Golkar Hadjriyanto Tohari sebelumnya, sudah melihat gerakan JK melobi ke sejumlah parpol. Pertanyaan besar muncul, akankah JK setia dan 'mengalah' di Pilpres 2014?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk menghindari trauma masa lalu, Golkar pun membatasi langkah JK. Kini JK tak bisa lagi maju Pilpres dengan baju Golkar. Kesetiaan JK kepada Golkar pun diuji.
Sejumlah elite Golkar masih yakin JK akan setia kepada Golkar karena tanpa dukungan JK yang kuat di wilayah Indonesia timur maka pencapresan Ical bisa kandas di tengah jalan.
"JK itu kan negarawan. Setahu saya dulu juga menolak masuk Nasdem. Kalau untuk pilpres Pak JK berhak ambil posisi, tapi Rapimnas sudah mendukung Pak Ical, tak mungkin Golkar mengusung dua capres. Kalau nanti Pak JK diusung oleh partai lain, bukan dalam posisi sebagai kader Golkar. Pendapat saya, JK sulit keluar dari Golkar," nilai Ketua Balitbang Golkar, Indra J Piliang, kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/7/2012).
"Pak JK itu kan basisnya Indonesia Timur. Pak Ical itu lemah di Indonesia timur. Tapi apakah kalau Pak Ical maju, basisnya Pak JK tidak akan mendukung Pak Ical, belum tentu juga,"lanjut Indra.
Namun tentu Golkar harus siap dengan segala konsekuensi. Kalau kemudian JK tak lagi setia dan melenggang ke Pilpres 2014 dengan kendaraan lain.
"Pemecatan itu untuk umum. Kok seolah-olah untuk Pak JK. Itu butuh waktu yang lama. Jadi kalau seseorang dipecat itu butuh waktu 9 bulan prosesnya," tegasnya.
(van/aan)











































