Wasekjen: NU Tak Perlu Risau Jadi Rebutan Capres
Rabu, 25 Agu 2004 05:50 WIB
Jeddah - Perebutan pengaruh dan simpati dua kandidat Pilpres di kantong-kantong NU tak terelakkan. Tarik menarik kepentingan dapat mengancam keutuhan NU. Namun kondisi itu dinilai tak perlu dirisaukan."Kondisi saat ini yang seolah-olah NU ikut berpolitik praktis, hanya bersifat temporal. Pasca Pemilu nanti akan kembali normal. Jadi tak perlu dirisaukan."Demikian kata Wasekjen PBNU Hilmi Muhammadiyah kepada detikcom saat ditemui di ruang kerjanya yang sedang menjalankan tugas sebagai Home Staff Bidang Urusan Haji Konsulat Jenderal RI Jeddah selama tiga tahun, Selasa (24/8/2004)."Kenapa demikian, karena NU sudah beberapa kali menghadapi ujian berat, seperti pada Pemilu 1971," lanjut pria yang sering mendampingi tokoh-tokoh NU saat melaksanakan ibadah umrah di tanah suci ini.Bahkan dengan adanya opini publik yang beranggapan dengan sikap NU tersebut bisa berakibat pesantren-pesantren terpecah, tapi menurut Hilmi, itu kecil pengaruhnya."Karena saya anggap itu sebagai political exercise," ujar Hilmi yang akan mengakhiri masa tugasnya di Jeddah pada 31 Agustus 2004. Dia akan kembali berkiprah di tanah air pada 1 September 2004.Menurutnya, akan tumbuh dari setiap komponen atau fraksi dalam NU yang saling memahami dan saling menghargai. Namun demikian, secara makro dan jangka panjang, NU harus melakukan penguatan institusi yang memberi ruang kepada pembentukan masyarakat madani."Ikhtiar-ikhtiar yang dilakukan NU harus lah mengarah pada kerja-kerja kultural. Seperti pemberdayaan pendidikan dan peningkatan SDM, serta merespons isu-isu internasional tentang demokratisasi, terorisme, persamaan hak perempuan dan pria, dan pembentukan good governance," harap Hilmi.
(sss/)











































