"Ribuan warga yang tinggal di pesisir sungai sudah mengungsi jauh dari aliran sungai," kata Muhammad Don Assel (62), tetua adat desa Negeri Lima, kepada detikcom, via ponsel.
Kejadian ini, kata Muhammad Don, diketahui setelah mendengar bunyi keras pada, Jumat (13/7/2012) pagi tadi. Namun kejadian ini belum sempat dilaporkan kepada pemerintah setempat atau instansi terkait.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diungkapkan, karena kejadian ini, pemerintah desa dan warga setempat kini memilih waspada. "Kami waspada. Bahkan sebagian warga sudah mengecek keberadaan gunung yang runtuh itu," ujarnya.
Saat dicek, lanjut Muhammad, kondisi gunung mengalami patahan besar dan runtuh menutupi daerah aliran sungai Waiela. Sungai mengalami kekeringan. Padahal, saat ini hujan terus mengguyur.
Hal ini juga dibenarkan tokoh pemuda desa Negeri Lima, Muhammad Syafin Soulisa. "Saat ini warga teramat khawatir dengan kejadian ini. Kami minta pihak pemerintah segera menanggulangi, jangan sampai efek buruk akan terjadi," pinta Syafin.
Sehari sebelum kejadian, gempa tektonik mengguncang wilayah pulau Ambon dan Pulau Seram dengan kekuatan 5,6 SR. Gempa ini dirilis BMKG Maluku.
Sebelumnya, di kecamatan Leihitu, kejadian serupa terjadi di dusun Mamua tahun 2006 silam. Sebuah bukit runtuh dan berubah menjadi danau besar. Akibatnya air yang tertampung dalam danau 'ajaib' ini menjebol tanggul. Air bah pun terjadi. Ratusan rumah warga tersapu.
Bahkan di dusun ini, kejadian terjadi dua kali. Warga pun kini memilih mengungsi dan tidak lagi mendiami kawasan daerah aliran sungai.
(han/trw)











































